Lampaui Target, IPEX ke-20 Hasilkan Potensi Kredit Hunian Rp 4,56 Triliun

Lampaui Target, IPEX ke-20 Hasilkan Potensi Kredit Hunian Rp 4,56 Triliun
Salah satu perumahan bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Desa Bandungrejo, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. (Foto: Suara Pembaruan / Stefi Thenu)
Mashud Toarik / MT Minggu, 23 Februari 2020 | 21:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Pameran hunian, Indonesia Properti Expo (IPEX) ke-20 yang digelar sejak tanggal 15 Februari 2020 resmi ditutup hari ini, 23 Februari 2020. Bagi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk selaku penggagas acara, IPEX merupakan kegiatan untuk menggenjot penyaluran kredit hunian baik Kredit Pemilikan Rumah (KPR) maupun Kredit Kepemilikan Apartemen (KPA).

Selama sepakan IPEX, BTN mencatat lebih dari 200.000 pengunjung yang datang. Sementara nilai izin prinsip KPR maupun KPA yang berhasil diraih selama pameran berlangsung mencapai sebesar Rp 4,56 triliun, dengan jumlah unit yang berhasil dipesan mencapai 7.668 unit.

Direktur Utama Bank BTN, Pahala N. Mansury mengatakan, nilai izin prinsip KPR tersebut lebih tinggi dibandingkan target awal yang dibidik perseroan yaitu sebesar Rp 3 trilliun.

“Kami sangat bersyukur karena awal tahun ini, stimulus yang diberikan Pemerintah terhadap sektor properti mulai dirasakan, karena penurunan suku bunga acuan, pelonggaran Loan To Value atau LTV yang membuat uang muka KPR makin terjangkau berhasil memacu penjualan rumah tahun ini,” kata Pahala N. Mansury di Jakarta, Minggu (23/2/2020).

Adapun izin prinsip KPR dan KPA yang sudah disetujui tersebut mayoritas mengalir ke segmen KPR dan KPA Non Subsidi mencapai Rp 3,51 triliun atau setara dengan 4.360 unit hunian. Sementara Izin Prinsip KPR dan KPA Subsidi sebanyak Rp 421 miliar atau sebanyak 2.585 unit hunian. Sedangkan Unit Usaha Syariah BTN berhasil meluluskan izin prinsip KPR dan KPA Syariah baik subsidi maupun non subsidi untuk 723 unit hunian, atau senilai kurang lebih Rp 635 miliar.

IPEX kali ini juga mencatatkan permintaan rumah tertinggi di sejumlah kawasan yang berdekatan dengan akses transportasi, seperti Jakarta, Bogor, Depok dan Serpong. Sejumlah proyek yang meraih minat terbanyak adalah proyek Transit Oriented Development (TOD) milik Perumnas, Adhi Commuter Property dan Proyek HK Realtindo di Sawangan, Jawa Barat serta proyek apartemen milenial milik PT PP Properti. Sementara hunian yang paling diminati berkisar Rp300 juta - Rp500 juta.

Pahala menilai, tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dan makin maraknya perkembangan infrastruktur khususnya transportasi dan perluasan akses jalan penghubung seperti tol yang membangkitkan perumahan menjadi faktor utama masyarakat membeli rumah tahun ini.

Selain itu, sesuai dengan slogan “Ayo punya rumah dengan Bank Tabungan", Bank BTN dengan aneka produk KPR seperti KPR Gaess For Millenials menawarkan banyak kemudahan bagi masyarakat terutama generasi millenials memiliki rumah serta program promosi yang menarik hasil kerjasama dengan pengembang, seperti keringanan Uang Muka, biaya pemesanan, asuransi serta suku bunga KPR yang terjangkau.

“KPR Subsidi tetap menjadi primadona bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah, meski Fasilitas Likuiditas Pemilikan Perumahan tahun ini terbatas, namun ada kabar gembira dari Kementerian Keuangan bahwa subsidi selisih bunga atau SSB untuk sekitar 224.000 unit rumah akan ditambahkan ke anggaran tahun ini,” katanya.

Kebijakan yang dinanti-nanti oleh Masyarakat Berpenghasilan Rendah tersebut, lanjut Pahala, juga menjadi angin segar bagi pengembang dan perbankan. “Kami mengapresiasi kebijakan Pemerintah khususnya Kemenkeu dan Kementerian PUPR yang tetap berkomitmen menyukseskan Program Satu juta Rumah salah satunya dengan mempertahankan dan menambahkan anggaran subsidi bagi MBR untuk KPR, Bank BTN tentu saja siap mengemban tugas sebagai mitra Pemerintah dalam menyalurkan FLPP maupun SSB,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com