Lagi, Wall Stret Tak Berdaya Dihantam Kekhawatiran Corona

Lagi, Wall Stret Tak Berdaya Dihantam Kekhawatiran Corona
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. ( Foto: AFP / Spencer Platt )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 26 Februari 2020 | 08:29 WIB

New York, Beritasatu.com- Wall Street atau bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa malam waktu setempat atau Rabu pagi WIB (26/2/2020) ditutup melemah.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 879,4 poin (3,15 persen) menjadi 27.082, Indeks Komposit Nasdaq melemah 255,7 poin (2,79 persen) menjadi 8.966 poin dan Indeks S&P tuurn 97,7 poin (3,03 persen) menjadi 3.128 poin.

Baca Juga: Setelah Anjlok, Wall Street Indikasikan Bakal Rebound

Bursa saham AS anjlok untuk hari kedua karena Dow kehilangan lebih dari 800 poin pada hari Selasa karena kekhawatiran virus corona, menambah kejatuhan 1.000 poin pada Senin. Sementara penurunan dua hari indeks S&P 500 sebesar 6,3 persen adalah yang terbesar sejak Agustus 2015. Investor melepas aset berisiko karena virus corona makin menyebar ke seluruh dunia sehingga menekan ekonomi.

Baca Juga: Bursa Asia Rontok Akibat Coronavirus, Wall Street Bakal Menyusul

Kedua indeks utama mencatat penurunan persentase empat hari terbesar sejak aksi jual besar-besaran pada Desember 2018, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahun mencapai rekor terendahnya.

Kekhawatiran pandemi meningkat setelah corona menyebar ke Spanyol dan puluhan negara, mulai dari Korea Selatan hingga Italia. Sementara jumlah kematian akibat virus di Iran naik menjadi 16, tertinggi di luar Tiongkok.

Di Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengatakan warga Amerika harus bersiap untuk kemungkinan penyebaran virus di masyarakat.

Indeks Arca Airline NYSE ditutup jatuh lima persen, mencatat penurunan tiga hari terbesar sejak Oktober 2011. Delta Airlines Inc merosot enam persen, setelah memperkirakan penerbangan AS-Tiongkok akan ditangguhkan sampai akhir April dan memperpanjang menghindari perjalanannya ke Seoul hingga 30 April.



Sumber: CNBC