Jokowi: Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar Ekonomi Digital

Jokowi: Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar Ekonomi Digital
Joko Widodo. ( Foto: Antara )
Novy Lumanauw / FMB Kamis, 27 Februari 2020 | 13:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan seluruh elemen bangsa bahwa Indonesia harus menjadi pemain utama ekonomi digital dan jangan hanya dijadikan sebagai pasar karena populasi penduduknya yang mencapai 267 juta jiwa.

"Tetapi saya perlu ingatkan juga. Jangan sampai kita ini hanya menjadi pasar. Kita juga tidak mau jadi penonton atas kemajuan ekonomi digital ini," kata Presiden Jokowi saat menjadi pembicara kunci pada Indonesia Digital Summit 2020, di The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (27/2/2020).

Presiden Jokowi mengatakan, perkembangan ekonomi digital harus memicu pemasaran produk-produk buatan dalam negeri. Bahkan, perkembangan ekonomi digital harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk memasarkan produk-produknya ke berbagai belahan dunia. Langkah itu diperlukan untuk meningkatkan derajat UMKM agar menjadi Usaha Kecil Menengah (UKM) hingga pengusaha besar.

"Ini penting sekali. Pemasaran produk-produk usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, penting sekali. Ini saya sampaikan. Artinya, ekonomi digital kita harus mendorong produksi dalam negeri ini laku, terjual. Jangan barang impor yang dipasang di market place kita," katanya.

Menurut Presiden Jokowi, ekonomi digital juga harus menciptakan lapangan kerja, mendorong ekspor, dan meningkatkan devisa.

"Kita harapkan ekonomi digital selanjutnya bisa menurunkan defisit neraca perdagangan kita, menurunkan defisit transaksi berjalan yang kita miliki, harapan kita itu. Kita harus bekerja keras untuk menjadi produsen sehingga memberikan dampak yang luas dan positif kepada masyarakat kita," katanya.

Hadir pada kesempatan itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri BUMN Erick Thohir, Menkominfo Johnny G Plate, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.



Sumber: BeritaSatu.com