Astra International Catat Laba Bersih Rp 21,7 Triliun

Astra International Catat Laba Bersih Rp 21,7 Triliun
Direktur PT Astra International Tbk Suparno Djasmin (tengah) bersama jajaran direksi anak-anak usaha Astra Grup mencoba salah satu motor yang ikut dipamerkan di Astra Auto Fest 2020, di BSD City, Tangerang, Rabu (19/2/2020). Pameran otomotif tahunan yang telah terselenggara sejak 2018 ini akan berlangsung selama lima hari hingga hari Minggu mendatang. ( Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad Defrizal )
Herman / FER Kamis, 27 Februari 2020 | 19:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Astra International Tbk (Persero) pada 2019 berhasil meraih laba bersih Rp 21,7 triliun, naik tipis dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 21,6 triliun. Nilai aset bersih per saham tercatat sebesar Rp 3.652 pada 31 Desember 2019, 8 persen lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2018.

Baca: Astra Auto Fest 2020 Libatkan Seluruh Value Chain

Presiden Direktur Astra, Prijono Sugiarto memaparkan, untuk pendapatan bersih konsolidasian Grup pada tahun 2019 menurun 1 persen menjadi Rp237,2 triliun.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan dari divisi otomotif dan agribisnis, di mana penurunan tersebut lebih besar daripada peningkatan pendapatan dari divisi jasa keuangan serta infrastruktur dan logistik.

Sementara itu untuk utang bersih di luar Group anak perusahaan jasa keuangan mencapai Rp 22,2 triliun pada 31 Desember 2019, meningkat dibandingkan dengan Rp 13,0 triliun pada akhir tahun 2018.

Menurut Prijono, hal ini terutama disebabkan oleh tambahan investasi Grup pada jalan tol dan Gojek, serta belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan. Anak perusahaan Grup segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp 45,8 triliun pada 31 Desember 2019, dibandingkan dengan Rp 47,7 triliun pada akhir tahun 2018.

"Kinerja group selama tahun 2019 terimbas pelemahan konsumsi domestik dan rendahnya harga-harga komoditas, tetapi diuntungkan oleh peningkatan kinerja dari bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas Grup yang baru diakuisisi,” kata Prijono Sugiarto dalam keterangan resminya, Kamis (27/2/2020).

Baca: Astra Agro Optimistis Capai Target 2020

Secara rincil, laba bersih dari divisi otomotif Grup mengalami penurunan sebesar 1 persen menjadi Rp 8,4 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan mobil dan meningkatnya biaya-biaya produksi, yang sebagian diimbangi oleh kenaikan volume penjualan sepeda motor.

Sedangkan untuk jasa keuangan, laba bersih bisnis ini meningkat 22 persen menjadi Rp 5,9 triliun, terutama disebabkan oleh portofolio pembiayaan yang lebih besar dan perbaikan kredit bermasalah.

Untuk Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi, laba bersih dari divisi ini meningkat sebesar 1 persen menjadi Rp 6,7 triliun. Laba bersih dari divisi Agribisnis grup turun 85 persen menjadi Rp 168 miliar, divisi infrastruktur dan logistik grup meningkat 49 persen menjadi Rp 292 miliar, divisi teknologi informasi grup turun 7 persen menjadi Rp 193 miliar, dan divisi properti grup turun 48 persen menjadi sebesar Rp 83 miliar.

Pada tahun 2019, investasi senilai US$100 juta telah ditambahkan di Gojek, sehingga total investasi Astra menjadi US$250 juta.

Prijono menilai, prospek pada 2020 masih menantang yang disebabkan ketidakpastian kondisi makro eksternal, kompetisi di pasar mobil serta harga-harga komoditas yang lemah. Namun Group Astra yakin bahwa Grup berada pada posisi yang baik untuk memanfaatkan momentum dari setiap perbaikan kondisi ekonomi.



Sumber: BeritaSatu.com