Potensi Dampak Virus Corona di Indonesia Menurut Grant Thornton

Potensi Dampak Virus Corona di Indonesia Menurut Grant Thornton
Petugas mengevakuasi pasien terinfeksi "corona" dari sebuah rumah sakit di Korea Selatan. ( Foto: AFP )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Jumat, 28 Februari 2020 | 18:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com– Virus Corona telah menyebarkan ketakutan yang nyata di seluruh penjuru dunia. Hal ini tentu membawa dampak luar biasa pada perekonomian Tiongkok dan global, contohnya saja sektor pariwisata. Untuk mencegah penyebaran virus baru, pemerintah di seluruh dunia telah memberlakukan pembatasan perjalanan pada orang yang akan bepergian dari dan ke Tiongkok.

Indonesia menjadi salah satu negara yang telah memberlakukan larangan perjalanan ke dan dari Tiongkok. Statistik Indonesia menunjukkan dari Januari hingga November 2019 tercatat 1,9 juta wisatawan Tiongkok telah mengunjungi Indonesia.
Meskipun virus ini belum dinyatakan secara resmi ditemukan di Indonesia, tidak bisa dipungkiri hal ini akan berpengaruh pada perekonomian Indonesia.

Pemerintah telah mempersiapkan langkah-langkah preventif dalam menanggulangi goyahnya ekonomi jika virus ini sampai masuk ke Indonesia.

Pariwisata diperkirakan akan menjadi sektor yang paling berdampak akan merebaknya kasus ini. Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) memprediksi potensi kerugian sektor industri pariwisata mencapai puluhan miliar per bulan karena anjloknya turis dari Tiongkok.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia selama Januari sampai Juni 2019 mencapai 1,05 juta orang, terbanyak kedua setelah wisatawan Malaysia.

“Virus corona yang sudah banyak menyerang saudara kita di belahan negara lain tentu menjadi ketakutan yang juga dirasakan hingga Indonesia. Tak hanya tindakan dari pemerintah saja, masyarakat pun perlu mawas saat bepergian ke luar negeri sehingga menimalisir kemungkinan virus masuk ke Indonesia. Penting pula mengenali lebih jauh negara yang ingin dikunjungi sebelumnya,” ujar Managing Partner Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani dalam siaran pers, Jumat (28/2/2020).

Pelemahan ekonomi Indonesia lainnya bisa terjadi karena Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2020, penurunan tajam terjadi pada ekspor migas dan non-migas yang merosot 12,07 persen, hal ini dapat terjadi karena Tiongkok merupakan pengimpor minyak mentah terbesar, termasuk dari Indonesia.

Dari sisi impor juga terjadi penurunan 2,71 persen yang disumbang turunnya transaksi komoditas buah-buahan.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami perlambatan sekitar 0,23 persen, jika perekonomian Tiongkok melemah satu persen akibat wabah virus Corona.

Ia mengatakan, dampak virus Corona juga akan menyasar pada kinerja ekspor impor Indonesia pada Januari 2020.

“Walaupun status Indonesia pada saat ini 'belum ditemukan virus corona”, sebenarnya dampak pada perekonomian negara kita sudah terasa. Strategi pemerintah saat ini untuk mengoptimalkan biaya APBN dan menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga daya beli masyarakat, kami pandang sudah tepat untuk menjaga perekonomian Indonesia tetap stabil,” pungkas Johanna.



Sumber: BeritaSatu.com