Penyesuaian Harga Gas Perlu Diimbangi Penerimaan Pajak Industri

Penyesuaian Harga Gas Perlu Diimbangi Penerimaan Pajak Industri
Ilustrasi gas.
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 28 Februari 2020 | 21:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penurunan harga gas industri menjadi US$ 6 per Milion Million British Thermal Unit (MMBTU ) atau setara dengan Rp 85.662 per MMBTU (asumsi Rp 14,277 per dolar AS) harus diseimbangkan dengan penerimaan pajak industri.

Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad, rencana pemerintah menurunkan harga gas akan mengurangi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor minyak bumi dan gas (migas). Untuk itu, diperlukan penambahan pajak dari industri yang menggunakan bahan bakar gas tersebut. "Harus diseimbangkan, antara penerimaan di hulu dengan pajak industri," kata Tauhid Ahmad dalam keterangan yang diterima Jumat (28/2/2020).

Tauhid mengingatkan, sebelum diputuskan besaran penurunan harganya, pemerintah harus menghitung secara cermat dampaknya. "Saya kira harus realistis, mungkin tidak US$ 6 per MMBTU, tapi di harga yang paling menguntungkan semua pihak," lanjut Tauhid Ahmad.

Baca Juga: April, Implementasi Harga Gas Industri di Bawah US$ 6 per MMBTU

Sebagai negara eksportir gas, Tauhid menilai harga gas industri Indonesia tergolong mahal. Namun hal itu salah satunya karena lokasi sumber gas yang berada di pulau-pulau yang menguras harga produksi. Sementara 70 persen harga gas hilir dipengaruhi harga gas di hulu tersebut.

“Saat ini harga gas industri berada pada rentang US$ 9 - US$ 12 atau sekitar Rp 125.676-Rp 167.568 per MMBTU. Angka itu jauh di atas harga gas internasional yang berkisar US$ 5 per MMBTU - US$ 4 per MMBTU atau cenderung berdekatan dengan fluktuasi harga minyak dunia," lanjut Tauhid.

Baca Juga: Jokowi Siapkan Tiga Skenario Turunkan Harga Gas Industri

Ia mencontohkan di Thailand harga gas di hulu sebesar US$ 7 per MMBTU dan Malaysia sebesar US$ 5,5 per MMBTU. Bahkan, Tiongkok mematok harga gasnya di US$ 8 per MMBTU. Belum termasuk biaya penyaluran gas melalui pipa atau non pipa. Sementara harga gas di Singapura justru di atas US$ 15 per MMBTU.

Terkait dengan wacana penurunan harga gas ini, sesuai Perpres Nomor 40 tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi, terdapat tujuh industri yang berhak mendapatkan harga gas US$ 6 per MMBTU, yaitu pupuk, petrokimia, oleochemical, industri baja, industri keramik, industri kaca, dan industri sarung tangan karet.



Sumber: BeritaSatu.com