Dihantam Korona, Minyak Alami Pekan Terburuk Sejak Krisis 2008

Dihantam Korona, Minyak Alami Pekan Terburuk Sejak Krisis 2008
Ilustrasi eksplorasi minyak lepas pantai. ( Foto: AFP )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Sabtu, 29 Februari 2020 | 09:03 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak mengalami pekan terburuk sejak krisis keuangan 2008 karena panik atas pandemi korona yang menghancurkan pasar global.

Harga Minyak Futures di New York turun 16 persen sepanjang minggu ini, menandai penurunan mingguan terbesar sejak Desember 2008. Hingga kini wabah tidak menunjukkan tanda-tanda membaik bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meningkatkan risiko global menjadi "sangat tinggi" dari "tinggi."

Runtuhnya pasar keuangan mendorong Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell untuk meyakinkan investor bank sentral siap memotong suku bunga guna mengurangi ancaman virus terhadap kegiatan ekonomi.

"Sebulan lalu kekhawatiran hanya di Tiongkok," kata analis riset energi Raymond James & Associates Inc, Pavel Molchanov.

"Keruntuhan pasar adalah ketakutan akan pandemi global. Risikonya adalah kita akan melihat gangguan yang sama seperti di Asia, dari pembatasan perjalanan hingga karantina, terjadi di seluruh dunia.

Baca Juga: Minyak Jatuh ke Level Terendah Sejak Januari 2019

Harga minyak telah jatuh hampir 27 persen sepanjang tahun 2020 karena kekhawatiran wabah korona akan mengurangi permintaan minyak mentah.

OPEC dan sekutunya telah mengisyaratkan mencapai kesepakatan membendung pelemahan sebelum bertemu di Wina Austria minggu depan. Arab Saudi dilaporkan mendorong pengurangan produksi kolektif OPEC + tambahan 1 juta barel per hari, yang akan menanggung beban terbesar.

Baca JugaHarga Minyak Turun Akibat Kekhawatiran Penurunan Permintaan

Namun, proposal Riyadh mungkin tidak cukup untuk menyeimbangkan pasar minyak, menurut analisis Bloomberg Intelligence, Salih Yilmaz dan Rob Barnett. Pengurangan produksi OPEC + belum cukup menaikkan harga minyak.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate untuk pengiriman April turun US$ 2,33, atau 5 persen menjadi US$ 44,76 per barel di New York Mercantile Exchange. Brent untuk pengirman April pada Jumat, kehilangan US$ 1,66, atau 3,2 persen menjadi US$ 50,52 per barel di ICE Futures Europe exchange.



Sumber: Bloomberg