Imbas Virus Corona, Bank Indonesia Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Imbas Virus Corona, Bank Indonesia Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
Bank Indonesia. ( Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad Defrizal )
Herman / FMB Sabtu, 29 Februari 2020 | 15:52 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Sebagai imbas dari penyebaran virus corona atau Covid-19 yang semakin meluas, Bank Indonesia (BI) telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi di 2020 dari semula 5,1 persen-5,5 persen menjadi 5,0 persen-5,4 persen.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, IGP Wira Kusuma menyampaikan, revisi prakiraan ini utamanya karena pengaruh jangka pendek tertahannya prospek pemulihan ekonomi dunia pasca-meluasnya Covid-19, yang mempengaruhi perekonomian Indonesia melalui jalur pariwisata, perdagangan, dan investasi

Wira menyampaikan, kesepakatan tahap pertama perundingan perdagangan AS-Tiongkok sebetulnya sempat menurunkan ketidakpastian global dan meningkatkan optimisme pelaku ekonomi terhadap prospek pemulihan ekonomi global. Sejumlah indikator dini ekonomi global seperti keyakinan pelaku ekonomi, Purchasing Manager Index (PMI) dan pesanan ekspor menunjukan perbaikan pada Desember 2019 sampai Januari 2020. Namun optimisme berubah setelah terjadinya Covid-19 yang diprakirakan akan menekan perekonomian Tiongkok dan menghambat keberlanjutan pemulihan ekonomi global, setidaknya pada triwulan I-2020.

“Bank Indonesia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 dari 3,1 persen menjadi 3,0 persen. Di pasar keuangan global, terjadinya Covid-19 ini telah meningkatkan risiko sehingga mendorong penyesuaian aliran dana global dari negara berkembang kepada aset keuangan dan komoditas yang dianggap aman, serta memberikan tekanan kepada mata uang negara berkembang. Untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia, Bank Indonesia juga memprakirakan pertumbuhannya akan lebih rendah menjadi 5,0 persen-5,4 persen dari prakiraan semula 5,1 persen-5,5 persen,” kata IGP Wira Kusuma dalam acara pelatihan wartawan yang digelar Bank Indonesia, di Bandung, Sabtu (29/2/2020).

Wira menyampaikan, peran Tiongkok cukup besar dalam peta ekspor, pariwisata, dan investasi Indonesia, sehingga berisiko menahan prospek pertumbuhan ekonomi di 2020. Total ekspor Indonesia ke Tiongkok pada 2019 lalu mencapai US$ 29,76 miliar dengan pangsa 17 persen, sementara total impor Indonesia dari Tiongkok senilai US$ 29,42 miliar dengan pangsa 17,2 persen.

Sementara itu untuk sektor pariwisata, dari total 16,11 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang 2019, wisman asal Tiongkok memberi kontribusi terbesar kedua setelah Malaysia. Jumlahnya mencapai 2,07 juta kunjungan atau 12,9 persen dengan sumbangan devisa US$ 2,38 miliar. Sedangkan FDI dari Tiongkok ke Indonesia sebesar US$ 4,78 miliar (16,8 persen).

“Dengan penurunan ekonomi Tiongkok, perdagangan global juga akan menurun dikarenakan Tiongkok memiliki pangsa pasar terbesar dalam perdagangan global. Tentunya ini juga akan memengaruhi Indonesia karena kita banyak terkait juga dengan negara lain,” kata Wira.

Sementara itu menurut ekonom Bank Permata, Josua Pardede, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2020 diperkirakan akan berada di bawah angka 5 persen sebagai imbas dari meluasnya virus corona. Josua berharap pemerintah dapat terus menjaga konsumsi masyarakat sebagai kontributor terbesar dalam PDB Indonesia, sehingga ekonomi Indonesia bisa tetap kuat.

“Akibat virus corona ini, kondisi ekonomi global sangat terpengaruh. Tidak hanya industri manufaktur di Tiongkok saja yang menurun, tetapi juga di negara lain. Di kuartal I-2020 ini, perkirannya pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,9 persen sampai 5 persen, tidak akan jauh dari level itu. Kalau seandainya wabah ini mulai mereda di kuartal II-2020, untuk full year kami masih meyakini pertumbuhannya bisa di kisaran 5 persen. Tetapi kalau wabah ini terus berkepanjangan, saya pikir untuk full year akan di bawah 5 persen,” kata Josua.



Sumber: BeritaSatu.com