Melirik Peluang Milenial Miliki Apartemen di Kawasan CBD

Melirik Peluang Milenial Miliki Apartemen di Kawasan CBD
Ilustrasi pembangunan apartemen. ( Foto: Antara )
Imam Muzakir / FER Minggu, 1 Maret 2020 | 22:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kawasan Central Business District (CBD), tepatnya ruas jalan Sudirman-Thamrin dan kawasan Satrio (Kuningan) merupakan salah satu magnet utama dalam bisnis properti di ibu kota.

Baca: Properti Vila Masih Jadi Incaran Kalangan Atas

Tak hanya pelaku industri properti (developer) yang menjadikan kawasan ini sebagai lokasi pengembangan proyeknya, masyarakat sebagai konsumen juga memandang kawasan ini sebagai segitiga emas yang memiliki nilai investasi menjanjikan.

General Manager Marketing Ciputra Group, Andreas Raditya, mengatakan, melemahnya bisnis properti belakangan ini tak menyurutkan pengembang untuk menggarap proyek baru.

"Salah satu cara yang bisa di terapkan adalah dengan memberikan kemudahan pembiayaan lewat berbagai marketing gimmick yang menarik," kata Raditya di Jakarta, Minggu (1/3/2020).

Baca: Tingkat Permintaan Apartemen Masih Tinggi

Raditya mengatakan, Ciputra Group saat ini tengah menggenjot penjualan apartemen The Newton 2, dengan memberikan tawaran menarik pada konsumen. Terlebih, kalangan milenial dan profesional muda, merupakan salah satu target pasar yang memiliki potensi cukup besar.

"The Newton 2 yang berada di kawasan Ciputra World, menawarkan cicilan super murah, hanya Rp6 juta per bulan. Harga cicilan yang murah ini diberikan untuk memberikan kemudahan konsumen milenial dan profesional muda memiliki hunian dengan segala fasilitas dan kelebihannya di lokasi premium,” tandas Raditya.

Menurut Raditya, nilai cicilan Rp 6 juta per bulan sangat pas bagi para profesional muda dan milenial yang selama ini banyak menyewa tempat tinggal dengan konsep kamar kos atau dormitory di sekitar CBD.

Baca: Hunian Layak Masih Jadi Persoalan Keluarga Muda

"Kebanyakan profesional muda dan milenial tinggal di rumah-rumah kos. Tak heran, tingkat hunian rumah kos di kawasan ini cukup tinggi dan tentunya menjadi opportunity,” jelasnya.

Raditya menambahkan, mereka tinggal di dormitory karena tidak ingin menghabiskan waktu dengan kemacetan saat berangkat dan pulang kerja. Sebagian besar memang tinggal di area sub-urban Jakarta yang jarak tempuhnya sangat jauh dari kantor mereka atau juga mereka perantau dari luar Jakarta.

"Saya amati biaya per bulan untuk tinggal di rumah kos di kawasan bisnis Jakarta seperti ruas Jalan Satrio, Sudirman, dan Rasuna Said sudah berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulannya. Karena itu, akan lebih menguntungkan jika mereka membeli sekaligus invetasi apartemen yang jelas-jelas berada di kawasan perkantoran, seharga biaya kos bulanan,” pungkas Raditya.



Sumber: BeritaSatu.com