Industri Asuransi Jiwa Masih Torehkan Kinerja Positif Sepanjang 2019

Industri Asuransi Jiwa Masih Torehkan Kinerja Positif Sepanjang 2019
Ilustrasi asuransi.
Lona Olavia / FMB Rabu, 11 Maret 2020 | 16:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di tengah kisruh gagal bayar AJB Bumiputera dan Asuransi Jiwasraya hingga mendapat sorotan dari Bank Dunia, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pada tahun lalu mampu menorehkan kinerja yang cukup cemerlang.

Berdasarkan data yang dihimpun AAJI dari 59 perusahaan anggota dari total 60 perusahaan, industri asuransijiwa mencatat pertumbuhan total pendapatan sebesar 18,7 persen dari Rp 204,89 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp 243,20 triliun di 2019.

Pertumbuhan total pendapatan didapatkan dari kenaikan total pendapatan premi yang mencatat kenaikan sebesar 5,8 persen dari Rp 185,88 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp 196,69 triliun di tahun 2019 dengan catatan total premi bisnis baru meningkat 5,8 persen dan total premi lanjutan meningkat lebih besar dari total premi baru yaitu sebesar 5,9 persen, premi bisnis baru dari jenis pembayaran premi tunggal naik 3,7 persen dan premi reguler naik sebesar 14 persen, dan Annualized New Premium (ANP) naik 11,1 persen.

"Masih banyak yang menyadari perlunya asuransi seiring dengan layanan asuransi jiwa yang membaik, kegiatan literasi dan inklusi keuangan yang terus berjalan. Ini semua membantu pertumbuhan asuransi jiwa di 2019. Memang awal tahun ini penuh dengan tantangan yang skalanya bukan hanya Indonesia, tapi juga global. Awal tahun ini juga masih lebih banyak tanda tanya, tapi kami targetkan asuransi jiwa masih bisa tumbuh double digit," kata Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon saat konferensi pers di Rumah AAJI, Jakarta, Rabu (11/3/2020).

Sementara, dilihat dari kanal distribusi, bancassurance mengalami peningkatan 5,4 persen dari Rp 79,77 triliun menjadi Rp 84,08 triliun atau berkontribusi sebesar 42,7 persen, keagenan naik 6,6 persen dari Rp 73,36 triliun menjadi Rp 78,21 triliun atau berkontribusi sebesar 39,8 persen, telemarketing meningkat dari 5,1 persen menjadi Rp 4,09 triliun, employee benefit berkontribusi sebesar 2,7 persen dari total pendapatan premi yaitu Rp 5,37 triliun dan untuk kanal distribusi lain mencatat adanya peningkatan sebesar 25,4 persen menjadi 19,89 triliun.

Selain itu, pada tahun lalu total investasi industri asuransi jiwa mengalami kenaikan sebesar 8,6 persen jika dibandingkan
pada tahun sebelumnya menjadi Rp 501,63 triliun. Di mana, instrumen investasi dalam bentuk reksadana tetap menjadi kontributor tertinggi yaitu sebesar 33,4 persen dan ini mengalami kenaikan sebesar 7,3 persen. Disusul, saham dengan kontribusi 31,9 persen dan mengalami peningkatan sebesar 5,2 persen, lalu surat berharga negara naik 15,7 persen dan berkontribusi 15,3 persen dari total investasi. Kenaikan jumlah Investasi SBN dipengaruhi oleh adanya aturan dari Pemerintah terkait proporsi SBN terhadap total Investasi minimal 30 persen.

"Ini pertama kali total investasi tembus di atas Rp 500 triliun, Rp 330 triliun diinvestasikan dalam bentuk saham dan reksa dana. AAJI berharap dana nasabah yang kami investasikan di pasar modal ikut dilindungi dan mendapatkan pengawasan yang baik dari semua pihak yang kompeten. Harapan kami jangan terjadi lagi (gagal bayar), itu pahit sekali," ungkap Budi.

Sejalan dengan itu, AAJI pun meminta kepada pihak otoritas untuk segera membentuk Lembaga Penjamin Polis (LPP) karena sudah menjadi amanat dari Undang-Undang Perasuransian. Selain itu, dibentuknya LPP dikatakan dapat memberikan perlindungan terhadap industri asuransi jiwa di Tanah Air.

"Sejak keluar undang-undang itu, kami dari AAJI, AAUI, AASI, OJK, BKF sudah lima kali berjumpa. Tapi, jalannya tidak secepat yang diharapkan, ternyata komplek sekali. Misalnya, semua perusahaan wajib jadi anggota LPP, lalu bagaimana jika ada yang tidak sehat, ada iuran juga yang dibahas, jenis produk asuransi juga banyak dengan konsep yang berbeda," ujar Kepala Departemen Komunikasi AAJI Nini Sumohandoyo.

Di sisi lain, lanjut Budi, klaim reasuransi meningkat dari Rp 4,31 triliun menjadi Rp 5,53 triliun, total aset meningkat 9,4 persen dari Rp 517,91 triliun menjadi Rp 566,67 triliun. Begitupun dengan total cadangan teknis yang meningkat dari Rp 393,90 triliun menjadi Rp 422,60 triliun.

Sementara, industri asuransi jiwa mencatat kenaikan klaim dan manfaat yang dibayarkan sebesar 16,0 persen menjadi Rp 140,28 triliun dari Rp 120,93 triliun. Di mana klaim meninggal dunia meningkat sebesar 10,4 persen dari Rp 9,16 triliun menjadi Rp 10,11 triliun, klaim asuransi kesehatan sebesar 23,6 persen dari Rp 8,89 triliun tumbuh Rp 10,99 triliun.

Adapun, total tertanggung industri asuransi jiwa berhasil tumbuh 19 persen menjadi 64,34 juta orang, yang menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat Indonesia atas kebutuhan memproteksi diri dan investasi. Sejalan uang pertanggungan meningkat 10,2 persen menjadi Rp 4.200,81. Pertumbuhan ini menunjukkan semakin membaiknya kondisi ekonomi masyarakat Indonesia serta meningkatnya ketahanan keuangan mereka.

Secara konsisten, jumlah tenaga pemasar dalam industri asuransi jiwa mengalami kenaikan sebesar sebesar 9,2 persen menjadi 639.740 orang di 2019 dibandingkan dengan 2018.



Sumber: BeritaSatu.com