Hary Suwanda: Virus Corona Mewabah, Investor Jangan Panik

Hary Suwanda: Virus Corona Mewabah, Investor Jangan Panik
Pakar investasi pasar modal, Hary Suwanda, mengingatkan agar investor tetap tenang dan tidak panik dengan investasinya terkait merebaknya pandemi virus corona. (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 12 Maret 2020 | 21:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kondisi terkini wabah virus corona mengakibatkan pemerintah dan bank sentral di seluruh dunia memberlakukan stimulus fiskal maupun maupun moneter.

Baca: IHSG Terjun Bebas Terendah Sejak 2016, Ini Pemicunya

Pakar investasi pasar modal, Hary Suwanda, mengingatkan agar investor tetap tenang dan tidak panik dengan investasinya. Sebaliknya, kondisi ini bisa menjadi peluang bagi investor.

"Memang akhir-akhir ini banyak orang yang khawatir akan investasinya, apalagi di bursa saham. Indeks harga saham gabungan (IHSG) telah menurun 17,9 persen dalam jangka waktu kurang dari 3 bulan. Namun, kondisi ini bisa dikatakan akan berubah seriring upaya negara-negara melakukan berbagai program pencegahan penyebaran virus corona," kata Hary yang juga merupakan master trainer Akela Trading System dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/3/2020).

Hary mengungkapkan, beberapa kebijakan fiskal ekstrem memang diambil oleh para pemimpin dunia saat virus corona merebak. Sebagai contoh, bank sentral Amerika (The Fed) mengumumkan pemangkasan suku bunga Fed Fund Rate sebesar 50 bps di luar jadwal resmi FOMC (federal open market committee).

Sementara, Presiden AS, Donald Trump, mengumkan pemangkasan pajak karyawan (payroll taxes) menjadi 0 persen hingga akhir tahun 2020. Langkah yang sama juga diambil oleh Pemerintah RI, yakni penghapusan PPh 21 untuk sementara waktu.

Baca: Imbas Corona, Pemesanan Tiket ke Luar Negeri Anjlok 70%

Pemangkasan suku bunga sebesar 50 bps di luar jadwal resmi FOMC hanya terjadi dalam situasi mendesak. Menjelang krisis keuangan subprime mortgage di bulan Agustus 2007, Ben Bernanke, Fed Chairman saat itu juga melakukan hal yang sama. Pemangkasan payroll tax hingga 0 persen baru terjadi di era pemerintahan Trump ini.

"Kedua stimulus ini, baik moneter maupun fiskal adalah stimulus besar-besaran yang dilakukan AS.  Keduanya bertujuan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi akibat wabah virus corona. Selain Amerika, Bank of England (Bank Sentral Inggris) juga mengikuti langkah The Fed, dan memangkas suku Bunga sebesar 50 bps dari 0.75 jadi 0.25," jelas Hary.

Hary menuturkan, kondisi ini memaksa pemimpin dunia untuk mengucurkan stimulus baik moneter (pangkas suku bunga) maupun fiskal (pangkas pajak) hingga tingkat ekstrem. Namun demikian, pasar belum merespon stimulus tersebut karena saat ini perhatian dunia bukan pada likuiditas, melainkan solusi dari wabah corona, yaitu vaksin.

"Kondisi ini akan menciptakan peluang yang sangat langka, yakni harga saham yang sangat under value, dimana pada saat yang bersamaan ada likuiditas yang sangat berlimpah," tegasnya.

Baca: Bursa Global Terbakar, IHSG Diprediksi Tergerus

Jika dibandingkan, meski dalam situasi kondisi berbeda, pada krisis mortgage di tahun 2008, IHSG mengalami penurunan yang jauh lebih dahsyat.  IHSG terkoreksi hingga 61 persen dari level 2.830 ke level 1.089. Namun, dalam waktu kurang dari 3 tahun seluruh penurunan itu sudah kembali.

"Selepas tahun 2010, IHSG meroket bahkan ke level di atas 6.000. Jadi kondisi penurunan ini hanya sementara, pasar akan kembali membaik setelah badai finansial berlalu,” kata Hary.

Mengutip Warren buffet, Harry menyarankan agar para investor jangka panjang tetap tenang dan tidak panik sehingga bisa melihat peluang investasi. Sementara bagi trader jangka pendek, agar tetap disiplin dengan rencana trading dan sabar menunggu sembari melihat peluang di luar Bursa Efek Indonesia (BEI) yang bisa dilirik. "Bursa saham Amerika memungkinkan short selling, sehingga investor justru bisa memperoleh keuntungan ketika saham turun," kata dia.

Selain itu, Harry menambahkan, peningkatan likuiditas global, pemangkasan suku bunga dari bank sentral dunia, adalah faktor yang sangat kondusif bagi investasi emas. "Jika selama ini bursa saham Amerika terasa asing maka sudah saatnya investor mulai belajar menjadi investor global," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com