Dua Pelaku Usaha Daur Ulang Bakal Dibiayai Circulate Capital

Dua Pelaku Usaha Daur Ulang Bakal Dibiayai Circulate Capital
Penjelasan terkait Circulate Capital Ocean Fund (CCOF) di Jakarta baru-baru ini. ( Foto: Ist )
Heriyanto / HS Jumat, 20 Maret 2020 | 09:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dua usaha (industri) kecil dan menengah yang bergerak dalam daur ulang sampah plastik tengah dinilai untuk mendapatkan pembiayaan dari Circulate Capital Ocean Fund (CCOF). CCOF diluncurkan Circulate Capital yang merupakan pendanaan ventura pertama di dunia untuk atasi krisis polusi plastik di Asia dengan total nilai dana sebesar USD 106 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun.

CEO Circulate Capital Rob Kaplan mengatakan pihaknya berkomitmen untuk ikut mendorong pencegahan polusi plastik di laut terutama negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Saat ini sampah di lautan sudah mencapai angka yang mengkhawatirkan, yang tercatat mencapai 150 juta ton dan meningkat delapan juta ton setiap tahun.

Circulate Capital merupakan perusahaan investasi yang berfokus pada pendanaan start-up, organisasi, dan UKM yang mengolah dan mencegah sampah plastik di laut, sekaligus mempunyai dampak ekonomi (sirkular ekonomi). Adapun pendanaan ventura Circulate Capital untuk mengatasi krisis sampah plastik bermitra dengan perusahaan global seperti Danone, PepsiCo, The Coca-Cola Company, Procter & Gamble, Unilever, Dow dan Chevron Phillips Chemical.

Rob menjelaskan pendanaan USD 106 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun itu sudah ada sejak bulan Desember 2019 lalu. Jumlah tersebut untuk membantu pendanaan kepada berbagai usaha atau industri pengolahan sampah plastik.

Dikatakan, pihaknya sedang menerima pendaftaran dari berbagai usaha atau industri yang mengolah sampah plastik tersebut. Sejauh ini sudah ada dua kandidat dari Indonesia dan India yang tengah diseleksi untuk mendapatkan pendanaan dari Circulate Capital.
"Kami akan berinvestasi di startup (perusahaan pemula) dan UKM di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Kami mendorong berbagai upaya mengurangi sampah plastik. Ada dua usaha pemula yang tengah kami nilai, apakah layak atau tidak, untuk didanai," kata Rob di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Rob, Indonesia saat ini merupakan penyumbang terbesar kedua di dunia untuk sampah plastik di laut. Hasil studi global menyatakan Indonesia menghasilkan 3,2 juta metrik ton sampah plastik setiap tahun yang belum dikelola dengan baik, dan sekitar 1,29 juta metrik ton berakhir menjadi limbah laut.

Sementara itu, Director of Sustainable Development Danone Indonesia Karyanto Wibowo mengatakan pihaknya sangat mendorong berbagai upaya dalam pengumpulan dan mengurangi sampah plastik sesuai target Pemerintah Indonesia pada 2025. Sampah plastik yang dikelola dengan baik diyakini sangat bisa memunculkan nilai baru tersendiri.

Untuk itu, lanjutnya, pendekatan untuk membantu pendanaan dalam pengelolaan sampah plastik merupakan sebuah peluang yang bisa dikembangkan lebih jauh. Kemitraan inovatif sangat diperlukan, termasuk dalam investasi sebagai solusi untuk atasi persoalan yang ada.

Terkait hal ini, pendiri aplikasi Mountrash Gideon W Ketaren mengatakan solusi yang ditawari oleh Circulate Capital merupakan sebuah terobosan yang perlu ditindaklanjuti. Namun, tidak semua UKM atau pelaku usaha pemula dalam persampahan itu mempunyai kesiapan yang cukup. Hal itu karena bidang usaha ini bersifat informal dan membutuhkan pemberdayaan secara komprehensif.

“Pembiayaan yang ditawarkan sudah bagus, tetapi harus ikut juga dalam pendampingan dan pemberdayaan atas berbagai hal yang menjadi persyaratan. Apalagi berhadapan dengan investor yang butuh jaminan atas uang yang disalurkan,” ujar Chief Executive Officer PT Mountrash Avatar Indonesia ini.

Mountrash merupakan aplikasi solusi mengatasi sampah, khususnya plastik, yang didukung dengan sistem monetizing sehingga memberikan keuntungan bagi pengguna aplikasi tersebut.



Sumber: BeritaSatu.com