Erick Thohir Minta BUMN Besar Terbitkan Obligasi

Erick Thohir Minta BUMN Besar Terbitkan Obligasi
Erick Thohir ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Lona Olavia / FMB Jumat, 20 Maret 2020 | 14:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Guna menarik devisa ke dalam negeri, perusahaan BUMN yang memiliki performa baik diminta untuk menerbitkan surat utang (obligasi). Namun, Menteri BUMN Erick Thohir enggan menyebutkan berapa nilai obligasi yang akan diterbitkan.

“Untuk moneter sendiri kita akan mengeluarkan obligasi-obligasi supaya membantu devisa atau loan di mana obligasi ini dari perusahaan-perusahaan BUMN yang rating-nya bagus seperti Bank Mandiri, BRI, jadi bukan semua BUMN,” ujarnya di Jakarta, Jumat (30/3/2020).

Adapun, rencana penerbitan itu baru saja diusulkan dan disepakati. Meski begitu terkait penerbitannya, ia mengatakan harus di waktu yang tepat. Selain itu, Erick mengatakan proses pembelian saham kembali (buyback) saham masih berjalan. Saat ini, pihaknya tengah memprioritaskan enam perusahaan pelat merah untuk mengeksekusi buyback. “Kami juga sudah dalam program buyback saham di bursa, tapi memang saya limit kepada enam perusahaan dulu BRI, Mandiri, Telkom, Jasa Marga, PTBA. Ini juga momentum ya karena harga saham turun kita mesti pas, seperti kalau menerbitkan obligasi mesti pas,” ungkap ia seraya menambahkan bahwa buyback Rp 8 triliun akan dilakukan secara bertahap.

Di sisi lain, Erick juga meminta Bank BUMN menurunkan suku bunga usaha kecil menengah (UKM), mengingat sektor UKM banyak terkena dampak dari virus corona. Pihaknya pun telah mengusulkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait keringan pada sektor-sektor yang terkena dampak virus tersebut. “Jadi kita akan turunkan suku bunga, bahkan kita juga sedang mengajukan OJK bahwa ada juga relaksasi untuk sektor-sektor terdampak seperti hotel, pariwisata, penerbangan, restoran dan lain-lain yang punya pinjaman kepada bank-bank BUMN, tapi kita tunggu persetujuannya,” katanya.

Tak hanya sektor UKM, ia juga meminta kepada Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) untuk membantu secara menyeluruh maskapai nasional PT Garuda Indonesia Tbk, termasuk utang-utangnya. Kementerian BUMN juga katanya akan terus melakukan stress test untuk mengukur ketahanan kinerja perusahaan BUMN yang terdampak. “Indonesia negara besar dan kuat, kita akan recover meski butuh waktu beberapa bulan. Kita pun berharap dividen akan tetap tapi bukan tak mungkin tak tercapai. Ini sangat berat tapi ini keadaan yang harus kita hadapi,” ujar Erick.



Sumber: BeritaSatu.com