Kembali Melemah, Rupiah Ditutup di Rp 16.575/Dolar AS

Kembali Melemah, Rupiah Ditutup di Rp 16.575/Dolar AS
Ilustrasi rupiah. ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Lona Olavia / MPA Senin, 23 Maret 2020 | 16:25 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami depresiasi. Bahkan nilai kurs rupiah saat ini mendekati posisi terendahnya pada krisis 1998. Pada Juni 1998, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada titik terendahnya di level Rp 16.950.

Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup merosot 615 poin atau 3,85% ke Rp 16.575 per dolar AS. Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) berada di posisi Rp16.608 pada posisi 23 Maret 2020. Bahkan, dalam transaksi konvensional di perbankan tanah air, sudah ada yang menjual dolar AS di posisi Rp 16.900.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memprediksi, pelemahan rupiah akan bertahan dalam jangka waktu setidaknya empat bulan kedepan. “Sangat bisa tembus Rp 17.000 dengan kondisi kepanikan pasar yang terus berlanjut,” katanya kepada Beritasatu.com, Senin (23/3/2020).

Menurutnya, ada tiga faktor yang mendorongnya. Pertama, usaha Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan stimulus ekonomi di AS terganjal senat, sehingga memperlambat waktu pencairan dana. Kedua, jumlah pasien positif covid-19 di Indonesia terus bertambah menjadi 514 orang dan ini menambah pesimis penanganan corona yang dilakukan oleh pemerintah. Ketiga, jelang ramadhan, kondisi stok bahan pangan cukup beresiko menimbulkan inflasi. “Jika inflasi tinggi maka menggerus riil return dari investor yang memegang rupiah,” ucapnya.

Bhima menambahkan, pelemahan rupiah akan memukul sektor industri yang bahan bakunya dominan impor seperti tekstil, farmasi sampai elektronik dan otomotif. Dampak pertama, perusahaan yang terjepit situasi inipun punya dua pilihan sulit, naikan harga jual ditengah turunnya permintaan atau terpaksa lakukan PHK massal diberbagai lini produksi. “Angka pengangguran bisa melompat,” kata ia.

Dampak kedua, lanjutnya ada di sisi harga pangan. Sebentar lagi ramadhan dimana harga pangan biasanya naik, disisi lain rupiah melemah dan impor pangan terganggu. Inflasi yang naik tanpa diimbangi kenaikan rata-rata pendapatan masyarakat bisa berisiko turunkan daya beli secara signifikan. Ketiga, startup ecommerce dalam bahaya karena pelemahan rupiah membuat harga-harga produk impor naik tajam. “Masyarakat yang terbiasa promo tentu tidak siap kalau harga produk naik signifikan. Era bakar uang harus distop kalau tidak mau banyak startup yang tutup,” imbuhnya.

Keempat, kepanikan rupiah bisa membuat masyarakat melakukan langkah antisipasi dengan menarik dana dari perbankan. Likuiditas bank mengetat dan perbankan bisa kesulitan mendapat dana murah.

Kelima, korporasi yang andalkan utang luar negeri, harus bersiap menanggung beban biaya bunga dan cicilan dalam bentuk valas. Setiap pelemahan rupiah maka resiko gagal bayar utang juga meningkat. Ini berisiko sistemik ke sektor keuangan lainnya.



Sumber: BeritaSatu.com