Dampak Corona, Dana Asing Rp 125,2 Triliun Keluar dari Indonesia

Dampak Corona, Dana Asing Rp 125,2 Triliun Keluar dari Indonesia
Perry Warjiyo. ( Foto: Antara )
Herman / JAS Selasa, 24 Maret 2020 | 15:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wabah virus corona atau Covid-19 yang terus meluas telah memicu sentimen negatif bagi perdagangan saham dunia. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan, aliran modal asing yang keluar dari Indonesia pada tahun ini telah mencapai Rp 125,2 triliun.

Akibat merebaknya virus corona, investor global cenderung melepas investasi portofolio mereka di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi ini akhirnya berpengaruh terhadap harga saham dan juga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan, aliran modal asing yang keluar dari Indonesia pada tahun ini telah mencapai Rp 125,2 triliun, utamanya adalah captail outflow Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 112 triliun dan saham Rp 9,2 triliun.

“Dari total aliran modal asing yang keluar tersebut, sebagian besarnya terjadi pada bulan Maret 2020 sebanyak Rp 104,7 triliun,” kata Perry Warjiyo dalam acara media breafing yang dilakukan melalui telekonferensi, Selasa (24/3/2020).

Perry menegaskan, BI akan terus memantau kondisi likuditas di pasar yang dipastikan lebih dari cukup. BI juga terus meningkatkan intensitas triple intervention agar nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya dan mengikuti mekanisme pasar.

Caranya dengan mengoptimalkan strategi intervensi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pasar spot, dan pasar Surat Berharga Negara (SBN). Menurut Perry, BI hingga saat ini telah membeli SBN dari pasar sekunder yang dilepas oleh asing sebesar Rp 168,2 triliun.

“BI telah menginjeksi likuditas di pasar uang maupun perbankan yang mencapai hampir Rp 300 triliun berupa injeksi likuditas rupiah melalui pembelian SBN dari pasar sekunder sebesar Rp 168,2 triliun, dari Repo yang dilakukan oleh perbankan sekitar Rp 55 triliun, dan juga dari penurunan GWM (Giro Wajib Minimum) awal tahun maupun yang akan berlaku April 2020 sekitar Rp 75 triliun,” terang Perry.



Sumber: BeritaSatu.com