Minyak Turun 2%, AS Desak Arab Akhiri Perang Harga dengan Rusia

Minyak Turun 2%, AS Desak Arab Akhiri Perang Harga dengan Rusia
Ilustrasi eksplorasi minyak lepas pantai. (Foto: AFP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 26 Maret 2020 | 05:37 WIB

New York, Beritasatu.com - Amerika Serikat (AS) menyerukan kepada pemimpin de facto OPEC, Arab Saudi untuk menghentikan perang harga minyak dengan pemimpin non-OPEC, Rusia.

Dalam pernyataan Departemen Luar Negeri AS, Rabu waktu setempat atua Kamis pagi WIB (26/3/2020), juru bicara mengonfirmasi bahwa Sekretaris Menlu, Mike Pompeo telah berbicara dengan Pangeran Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman pada Selasa.

"Sekretaris Pompeo dan Putra Mahkota fokus pada kebutuhan menjaga stabilitas di pasar energi global di tengah respons dunia," kata pernyataan itu.

Baca juga: Harga Minyak Naik Tipis Ditopang Harapan Stimulus AS

Sekretaris menekankan Arab Saudi memiliki peluang penting di kacah energi global dan pasar keuangan ketika dunia menghadapi ketidakpastian ekonomi yang serius.

Pompeo dan Mohammed bin Salman menyatakan keprihatinan mendalam atas pandemi corona dan menggarisbawahi perlunya semua negara bekerja sama untuk mengatasi wabah tersebut, menurut pernyataan itu.

Patokan internasional, minyak mentah Brent mencapai US$ 26,46 per barel pada Rabu sore (25/3/2020) turun 2,5 persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS di US$ 23,47, 2,2 persen lebih rendah.

Baca juga: Dow Jones Menguat Didorong Kesepakatan Stimulus US$ 2 Triliun

Harga minyak telah turun lebih dari setengahnya dari level puncaknya pada Januari. Analis memperingatkan minyak mentah bisa jatuh lagi selama beberapa minggu mendatang.

Penyebabnya pandemi corona terus menghancurkan permintaan minyak di seluruh dunia dan perang harga yang sedang berlangsung antara Riyadh dan Moskow.

Awal bulan ini, kelompok produsen minyak OPEC dan non-OPEC gagal menyetujui perpanjangan pemotongan pasokan minyak setelah 31 Maret.

Ini menyebabkan kekhawatiran lonjakan pasokan mulai 1 April, dimana Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berjanji akan meningkatkan produksi.



Sumber: CNBC