BI : Pelemahan Rupiah Bersifat Sementara

BI : Pelemahan Rupiah Bersifat Sementara
Perry Warjiyo. (Foto: Antara)
Herman / MPA Kamis, 26 Maret 2020 | 14:15 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir ini lebih bersifat sementara. Sehingga ia meyakini sektor korporasi tidak akan menaikkan harga akibat pelemahan tersebut.

“Pelemahan rupiah ini karena kepanikan global akibat Covid-19. Begitu ada kejelasan mengenai kebijakan fiskal maupun moneter, rupiah akan kembali stabil dan menguat,” kata Perry Warjiyo di acara media briefing yang dilakukan melalui telekonferensi, Kamis (26/3/2020).

Setelah sebelumnya mengalami pelemahan, Perry menyampaikan nilai tukar rupiah di pasar valas sejak Selasa (24/3/2020) lalu hingga Kamis (26/3/2020) siang kembali mengalami penguatan dan cenderung bergerak stabil.

“Sejak Selasa lalu, mekanisme pasar berlangsung secara baik. Bid dan offer berlangsung, dan membentuk nilai tukar rupiah yang baik. Sekarang ini (Kamis) nilai tukar rupiah diperdagangkan sekitar Rp 16.250/US$, menguat dari posisi Senin lalu,” paparnya.

Perry menegaskan, Bank Indonesia juga akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar. Untuk itu, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas stabilisasi di pasar DNDF (Domestic Non Deliverable Forward), pasar spot, dan pembelian SBN (Surat Berharga Negara) dari pasar sekunder.

Sementara itu di pasar saham, Perry menyampaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) juga mengalami penguatan yang berada di level sekitar 4.316 atau menguat 380 poin, sampai saat ini. “Ini penguatan yang cukup signifikan setelah satu minggu lalu, bahkan dua minggu terakhir mengalami tekanan karena kepanikan pasar keuangan global. Hampir sebagian besar saham di dalam warna hijau, artinya mengalami perbaikan atau kenaikan harga. Ini menunjukkan bahwa kondisi kepanikan global mereda, dan apa yang kita alami di pasar keuangan Indonesia tidak terpisah dari kondisi pasar keuangan dunia,” ujar Perry.



Sumber: BeritaSatu.com