IHSG Melonjak 10,19% Kembali ke Level 4.000

IHSG Melonjak 10,19% Kembali ke Level 4.000
Ilustrasi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Lona Olavia / Merdhy Pasaribu / MPA Kamis, 26 Maret 2020 | 16:22 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com-Usai libur Nyepi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil kembali masuk ke level psikologis 4.000. Kenaikan itu mengikuti pasar saham AS yang menguat merespons paket stimulus sebesar US$ 2 triliun demi menanggulangi krisis akibat pandemi global.

IHSG, Kamis (24/3) ditutup melonjak 401,27 poin (10,19%) ke posisi 4.338,90 dengan tertinggi di 4.370 dan terendah di 3.937. Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp 653,13 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 882,28 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 11,2 miliar lembar saham senilai Rp 12,22 triliun. Sebanyak 300 saham naik 129 saham menurun, dan 115 saham tidak bergerak nilainya. Di mana, semua sektor saham mengalami lonjakan dan paling tinggi terjadi di sektor konsumer dan infrastruktur dengan kenaikan hingga 13 persenan.

Pada minggu ini secara akumulatif IHSG turun 6,2%, mayoritas ditekan oleh emiten perbankan. Meski demikian, emiten pertambangan selama dua hari perdagangan (23-24 Maret) cukup mengalami tren peningkatan.

Berbeda, bursa saham regional Asia justru kompak melemah. Indeks Nikkei melemah 4,51% ke 18.664,6, indeks Hang Seng turun 0,74% ke 23.352,3, dan indeks Straits Times melemah 0,96% ke 2.481,4.

Kenaikan IHSG secara harian ini merupakan yang lompatan tertinggi sejak 2008.  Namun, saham Indonesia telah merosot 21% sejak awal bulan. Dalam upaya untuk mengatasi dampak pandemi ekonomi, pemerintah bergerak selangkah lebih dekat untuk mengurangi batasan hukum pada defisit anggarannya untuk memungkinkan peningkatan dalam pengeluaran.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan, kenaikan IHSG pada perdagangan Kamis ini hanya euforia sesaat. IHSG, menurutnya masih dalam tren pelemahan (bearish), hingga pandemi virus corona (covid-19) selesai. “Tren IHSG masih bearish. Selama IHSG belum kembali kuat diatas 5.000. Koreksi akan terjadi selama kasus covid-19 sampai puncak dan mulai tren menguat saat mereda,” ujarnya kepada beritasatu.com, Kamis (26/3).

Adapun, atas kenaikan IHSG hari ini, ia mengatakan hal itu didorong naiknya mayoritas harga komoditas setelah permintaan di Tiongkok mulai normal kembali. Sektor pertambangan seperti batu bara, nikel, dan minyak pun punya potensi kenaikan lanjutan.

“Kenaikan IHSG hanya sementara, jadi hati-hati.Investor lebih baik sell on strength. Soalnya dampak dari pandemi ini cukup negatif untuk perekonomian,” ucapnya seraya menyebutkan, IHSG secara teknikal analisis ada di support 3.770.

Sementara bursa Asia harus terkoreksi, setelah naik dua hari berturut-turut. “Belum ada katalis positif, masih menunggu hasil pungutan suara RUU stimulus AS,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono Widodo menilai, penguatan IHSG mengikuti naiknya bursa saham dunia. “Selama kami tutup kemarin, bursa-bursa utama dunia mencatatkan kenaikan tajam terutama di AS karena solusi pemberian insentif ekonominya sudah disetujui. Jadi, kali ini IHSG juga mengikuti pola pergerakan indeks dunia yang ada sekarang,” katanya.

 



Sumber: BeritaSatu.com