Wall Street Ditutup Menguat 3 Hari Berturut-turut

Wall Street Ditutup Menguat 3 Hari Berturut-turut
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. ( Foto: AFP / Timothy A. Clary )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Jumat, 27 Maret 2020 | 05:57 WIB

New York, Beritasatu.com - Wall Street ditutup menguat tiga hari berturut-turut pada hari Kamis (26/3/2020). Paket RUU stimulus AS senilai US$ 2 triliun yang disetujui Senat mampu meredam ketakutan investor akan dampak virus corona. Klaim manfaat perlindungan pengangguran di AS menembus rekor baru, tetapi masih di bawah ekspektasi pasar.

Dow Jones Industrial Average naik 6,4 persen (1.351,62 poin) ke 22.552,17. Dalam tiga hari terakhir, Dow melesat lebih dari 20 persen. Indeks S&P 500 naik 6,2 persen ke 2.630,07, sementara Nasdaq naik 5,6 persen ke 7.797,54.

Kebijakan lockdown di sejumlah negara bagian membuat aktivitas perekonomian AS terhenti, sehingga jumlah klaim pengangguran di AS naik menjadi 3,28 juta orang pekan lalu. Jumlah ini lebih tinggi dari 665.000 klaim di era Great Depression dan rekor 695.000 klaim pada Oktober, 1982. Menurut survei analis Reuters, klaim pengangguran diprediksi di angka median 1 juta dan proyeksi atas di 4 juta. Citibank juga memperkirakan angka pengangguran pesimistis mereka di 4 juta orang. 

Senat menyetujui RUU Stimulus AS senilai US$ 2 triliun pada hari Rabu. RUU tersebut selanjutnya akan dibawa ke DPR, dan diperkirakan diloloskan pada hari Jumat pagi. Stimulus ini mencakup bantuan tunai yang diberikan langsung kepada rakyat AS dalam tiga minggu ke depan. Bagi warga AS yang memiliki pendapatan US$ 75.000-US$ 99.000 per tahun, akan mendapatkan US$ 1.200 per individu dan US$ 2.400 jika berkeluarga, ditambah US$ 500 per anak.

Saham Boeing naik 14 persen ditopang stimulus US$ 58 miliar untuk industri penerbangan. Saham Boeing melesat 90 persen dalam empat sesi terakhir.

Meskipun, kenaikan Dow dianggap sebagai pasar bullish, tetapi pelaku pasar masih khawatir Wall Street bisa anjlok lagi karena wabah virus corona belum selesai.

"Fluktuasi pasar yang kita lihat dalam beberapa bulan terakhir, baik kenaikan atau koreksi, berlebihan. Kenaikan yang kita lihat sekarang tidak mengindikasikan apa yang akan terjadi ke depan," kata Willie Delwiche, analis investasi di Robert W. Baird.



Sumber: Reuters