Bos 3M: Masker Kami Harusnya Tak Dijual di Toko

Bos 3M: Masker Kami Harusnya Tak Dijual di Toko
Seorang mahasiswa kedokteran di Touro University Nevada mengecek sebuah kardus berisi masker N95 di Las Vegas, Nevada, 28 Maret 2020. ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Senin, 30 Maret 2020 | 10:20 WIB

Beritasatu.com – Semua masker medis yang tersedia sekarang seharusnya dialokasikan untuk para petugas medis yang menangani para pasien virus corona di garis depan. Masker dengan perlindungan khusus itu seharusnya tidak dijual bebas di toko bagi konsumen umum, kata Mike Roman, chief executive officer (CEO) 3M.

3M adalah produsen masker medis terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat. Produknya yang paling banyak digunakan adalah masker N95, yang juga banyak dijual di Indonesia.

Namun, Roman mengingatkan masker N95 ini banyak dipalsukan dan dijual dengan harga berlipat-lipat.

"Kami dalam proses untuk bekerja sama dengan para pemilik toko online terkemuka, mengkoordinasikan strategi dan tindakan dalam mengidentifikasi dan memutus para pemalsu dan orang-orang yang melambungkan harga tersebut, dan melaporkan mereka ke penegak hukum,” kata Roman dalam suratnya kepada Jaksa Agung AS William Barr belum lama ini.

Rumah sakit-rumah sakit di berbagai penjuru Amerika sangat kekurangan alat perlindungan diri (APD) termasuk masker tipe N95, sarung tangan dan baju bedah akibat pandemik virus corona. Lebih dari 38.000 warga Amerika di 50 negara bagian dinyatakan positif terinfeksi.

Baca juga: Pakar Hukum Minta Penimbun APD dan Antiseptik Dipidana

Menurut Roman, masker N95 buatan 3M seharusnya tidak dijual bebas. Dalam sebuah wawancara di televisi Amerika akhir pekan lalu, Roman mengungkapkan kekecewaannya karena masker N95 dijual bebas di toko-toko daring, seperti Target.

Perusahaan e-commerce itu segera merespon dengan mengakui telah terjadi kesalahan.

"Kami minta maaf atas kesalahan yang terjadi. Kami segera berupaya menghapus masker ini dari toko dan menyumbangkannya ke Departemen Kesehatan Negara Bagian Washington untuk didistribusikan ke rumah sakit-rumah sakit," kata seorang juru bicara Target.

Target juga mengatakan akan mengecek ulang seluruh stok yang ada dan akan menyumbangkan setiap masker yang ditemukan kepada komunitas medis.

Harga Tidak Naik
Roman mengatakan 3M tidak akan menaikkan harga masker di tengah melonjaknya permintaan saat ini.

Dalam suratnya kepada jaksa agung, dia mengatakan upaya para individu atau entitas usaha untuk meraup untung di tengah pandemik virus corona merupakan “tindakan tidak etis” dan 3M akan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mengidentifikasi mereka.

Seperti halnya produsen alat kesehatan yang lain, 3M juga mendapat tekanan untuk segera meningkatkan produksi ketika jumlah kasus baru infeksi virus corona juga melonjak pesat.

Baca juga: Polisi Sita Ratusan Ribu Masker

Menurut Roman, 3M telah menggandakan produksi N95 menjadi sekitar 100 juta unit per bulan untuk pasokan global.

"Di Amerika Serikat saja, kami memproduksi 35 juta masker per bulan. Dari angka tersebut, 90 persen ditujukan khusus untuk para petugas medis, dan sisanya akan dikirim ke industri-industri yang rentan terhadap pandemik ini, seperti industri energi, makanan dan farmasi," kata Roman di laman Linkedin miliknya hari Minggu kemarin.

"Saya ingin orang tahu bahwa kami mengupayakan semua yang kami bisa untuk memenuhi permintaan di saat yang luar biasa ini, dan secepat mungkin mengirim pasokan dari pabrik-pabrik kami ke mereka yang paling membutuhkan," ujarnya.



Sumber: CNN