Ekspor Impor Turun Akibat Virus Corona, Pelaku Pelayaran Berharap Stimulus

Ekspor Impor Turun Akibat Virus Corona, Pelaku Pelayaran Berharap Stimulus
Rapat Umum Anggota (RUA) Indonesian National Shipowner's Association (INSA) menetapkan Carmelita Hartoto sebagai Ketua Umum DPP INSA terpilih periode 2019-2023, di Jakarta, Selasa (10/12/2019). ( Foto: Beritasatu.com / Thresa Sandra Desfika )
Thresa Sandra Desfika / FMB Selasa, 31 Maret 2020 | 14:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia National Shipowners Association (INSA) mengharapkan adanya stimulus bagi pelaku usaha pelayaran di tengah menurunnya permintaan akibat pandemi virus corona.

Ketua Umum DPP Insa Carmelita Hartoto menjelaskan, sektor pelayaran nasional tengah menghadapi tantangan berat seiring dengan pandemi Virus Korona.

Salah satu tantangan tersebut ialah penurunan volume kargo ekspor impor dari dan ke Tiongkok yang menurun sekitar 14-18% dan merembet ke negara tujuan lain, seperti Singapura dan Korea Selatan. Selain itu, kargo domestik terutama pada kargo penunjang ekspor impor dan distribusi nasional yang turun 5-10 persen.

"Tidak banyak yang bisa dilakukan selain berharap adanya stimulus dari stakeholders untuk menjaga kinerja pelayaran nasional," ujar Carmelita dalam keteranganya, Selasa (31/3/2020).

Lebih lanjut, ujar Carmelita, tantangan yang dihadapi operator pelayaran saat ini adalah proses clearance di pelabuhan yang lebih lama karena adanya penyemprotan disinfektan kapal, pemeriksaaan kesehatan kru kapal, dan pemeriksaan riwayat perjalanan kapal. Kondisi tersebut berdampak pada penambahan biaya operasional kapal.

Carmelita juga menambahkan, kebijakan physical distancing dan work from home akhirnya berpengaruh pula terhadap kinerja instansi di darat karena banyak yang membatasi jam kerja, termasuk tenaga operasional di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubunga Laut, khususnya pada subdit-subdit terkait kepengurusan sertifikat kapal serta kesyahbandaran.

Menurut Carmelita, pelayaran nasional pun mengalami kendala docking kapal yang disebabkan sejumlah galangan mengurangi jumlah pekerja di lapangan untuk meminimalisasi penyebaran Covid-19.

Akibatnya, pekerjaan perawatan kapal-kapal yang sedang docking terkendala entah sampai kapan dan kapal lainnya harus antre lama untuk docking dalam dua bulan terakhir. Selain itu, sparepart kapal yang impor dari Tiongkok terkendala sehingga membutuhkan waktu menunggu lebih lama dan lebih mahal.

Kondisi yang sangat memukul sektor pelayaran nasional saat ini, terang Carmelita, akan berdampak pada menurunnya kinerja industri terkait lainnya, seperti kinerja logistik, asuransi, galangan, industri sparepart kapal, hingga ke instansi pendidikan pelaut.

“Saat ini perusahaan pelayaran nasional bisa bertahan dan tidak gulung tikar saja sudah sangat bagus. Kondisi saat ini benar-benar berat bagi pelayaran nasional," imbuh Carmelita.

Untuk menyelamatkan perusahan pelayaran nasional dari masa sulit ini, kata Carmelita, dibutuhkan sejumlah stimulus dari stakeholders, seperti pemberian grace periode yang panjang pembayaran pinjaman bank, reschedule atau penjadwalan kembali pembayaran pinjaman bank, dan penghapusan pajak atas bahan bakar minyak (BBM).



Sumber: BeritaSatu.com