Dow Melemah, Corona Picu Penurunan Kuartalan Terburuk dalam 3 Dekade

Dow Melemah, Corona Picu Penurunan Kuartalan Terburuk dalam 3 Dekade
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. (Foto: AFP / Scott Heins)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 1 April 2020 | 05:23 WIB

New York, Beritasatu.com - Tiga indeks utama bursa AS di Wall Street anjlok pada Selasa (1/4/2020) dimana Dow Jones mencatat penurunan kuartalan terbesar sejak 1987 atau tiga dekade, sementara S&P 500 mengalami penurunan kuartalan terdalam sejak krisis keuangan karena meningkatnya kerusakan ekonomi menyusul pandemi virus corona.

S&P 500 dan Dow Jones mengakhiri kuartal pertama turun lebih 20 persen dibandingkan akhir 2019, ketika krisis kesehatan melanda Amerika Serikat dan membuat aktivitas bisnis terhenti.

Warga disarankan tinggal di rumah. Penutupan bisnis membuat karyawan tidak bekerja secara besar-besaran. Akibatnya, para ekonom memangkas ekspektasi pertumbuhan 2020. Investor mengamati laporan keuangan kuartalan yang suram, karena dikhawatirkan terjadi PHK massal yang menyebabkan resesi ekonomi.

Baca juga: Hari Terakhir Kuartal Kelabu, Wall Street Dibuka Melemah

Stimulus fiskal dan moneter US$ 2 triliun atau terbesar dalam sejarah membantu pasar ekuitas naik pada minggu lalu. Tetapi ini tidak cukup untuk memberikan kepercayaan kepada investor.

"Setelah tekanan pada bulan lalu, orang tidak mau bertaruh besar, sebelum melihat laporan pendapatan awal yang dimulai minggu depan," kata Deputy Chief Investment Abbot Downing, Carol Schleif di Minneapolis.

"Banyak investor berhati-hati menjelang rilis data klaim pengangguran Kamis (2/4/2020) dan laporan gaji non-pertanian Maret, pada Jumat (3/4/2020)," kata analis Jefferies, Steven DeSanctis.

Pada Selasa indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 410,32 poin, atau 1,84 persen menjadi 21.917,16, S&P 500 kehilangan 42,06 poin atau 1,60 persen menjadi 2.584,59 dan Nasdaq Composite turun 74,05 poin, atau 0,95 persen menjadi 7.700.

Nasdaq mencatat penurunan kuartalan terbesar sejak akhir 2018.



Sumber: Reuters