Secara Kuartalan, Harga Minyak Terburuk Sepanjang Sejarah

Secara Kuartalan, Harga Minyak Terburuk Sepanjang Sejarah
Ilustrasi eksplorasi minyak lepas pantai. ( Foto: AFP )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 1 April 2020 | 05:47 WIB

New York, Beritasatu.com - Patokan harga minyak mentah mengakhiri kuartal pertama 2020 dengan fluktuatif dan membawa pelemahan terbesar dalam sejarah, karena minyak mentah AS (WTI) dan Brent tertekan sepanjang Maret 2020 karena melemahnya ekonomi global menyusul pandemi virus corona. Hal ini diperburuk perang harga antara Rusia dan Arab Saudi.

Kedua patokan minyak dunia ambles dua pertiga dari nilainya di kuartal pertama 2020. Sementara sepanjang Maret 2020 hilang 55 persen, atau menjadi kontribusi terbesar kerugian di kuartal tersebut.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) patokan AS naik 2 persen pada perdagangan Selasa (4/1/2020) atau 39 sen mencapai US$ 20,48 per barel. Patokan minyak AS ini jatuh 54 persen selama bulan Maret dan 66 persen untuk kuartal pertama, penurunan terburuk sejak 1983.

Adapun minyak mentah berjangka Brent pada perdagangan Selasan melemah ke US$ 22,74 per barel. Patokan internasional ini turun 66 persen di kuartal pertama dan 55 persen di bulan Maret, persentase kuartalan dan bulanan terburuk sepanjang sejarah.

Permintaan bahan bakar global telah menurun akibat pembatasan perjalanan menyusul pandemi corona. Permintaan merosot sebesar menjadi 30 persen pada bulan April. Lemahnya konsumsi akibat aktivitas ekonomi yang dibatasi untuk beberapa bulan ke depan.

Baca juga: Di Perdagangan Asia, Harga Minyak Menguat Pagi Ini

Minyak mulai mengeliat setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat berbicara tentang menstabilkan pasar energi. Sebelumnya pasar minyak dunia ambles selama lebih tiga minggu setelah Arab Saudi dan Rusia tidak mencapai kesepakatan membatasi pasokan untuk memerangi pandemi virus corona yang sedang berkembang.

Itu membawa harga turun tajam di awal bulan, tetapi pasar turun lebih banyak lagi ketika pandemi memburuk. Lebih 800.000 orang telah terinfeksi dan lebih dari 39.000 telah meninggal. "Covid-19 telah menyandera pasar minyak," kata Direktur strategi energi RBC Capital Markets, Michael Tran, di New York.

Sejauh ini belum jelas apakah upaya Trump dan Putin akan membuahkan hasil. Arab Saudi dan anggota lain Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tidak mencapai kesepakatan pada Selasa untuk bertemu pada bulan April.

Arab Saudi, pemimpin OPEC secara de facto, dan Rusia, yang telah bersekutu dengan OPEC untuk menekan produksi selama lebih tiga tahun mulai akhir 2016, masih berselisih. Rencananya Saudi akan meningkatkan ekspor minyak menjadi 10,6 juta barel per hari (bph) mulai Mei karena konsumsi domestik melemah.



Sumber: Reuters