Bursa Tertekan, Bumi Benowo Incar Dana IPO Rp 156 M

Bursa Tertekan, Bumi Benowo Incar Dana IPO Rp 156 M
Ilustrasi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) ( Foto: Beritasatu Photo/David Gita Roza )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 1 April 2020 | 10:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di tengah kondisi pasar modal yang kurang kondusif, PT Bumi Benowo Sukses Sejahtera Tbk (Bumi Benowo) masih optimistis mengincar dana penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) hingga Rp 156 miliar. Pengembang properti pergudangan ini baru saja mendapatkan pernyataan efektif IPO dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Target tersebut setelah perseroan menetapkan harga penawaran Rp 120 per lembar dan saham yang diterbitkan maksimal 1,3 miliar (27 persen) saham baru," kata Direktur Utama Bumi Benowo Sukses Sejahtera, Felix Soesanto, dalam keterangannya yang diterima Rabu (1/4/2020).

Awalnya, perseroan berniat menerbitkan saham baru hingga 1,5 miliar saham (30 persen). Di tengah kondisi pasar yang kurang baik, saham yang diterbitkan dikurangi. Meski demikian, target dana IPO masih di atas Rp 150 miliar, seperti yang telah ditetapkan pada awal masa penawaran. “Sebesar 75 persen dana IPO untuk membeli tanah seluas 58.719 m2 di Kebomas, Gresik, di Jawa Timur, dan sisanya untuk modal kerja,” ujar Felix.

Dia mengatakan, pembelian tanah merupakan upaya menambah persediaan lahan (landbank) dan nantinya dibangun menjadi pergudangan. Pada 2019, perseroan baru saja menambah landbank sebanyak 6.683 m2 dan 2.250 m2. Diharapkan setelah IPO total landbank Bumi Benowo menjadi 10 hektare.

Selain menerbitkan saham baru, perseroan juga menerbitkan 650.000 waran dengan rasio 2:1 sebagai pemanis (sweetener) bagi investor. Waran tersebut akan diterbitkan dengan harga Rp 200 dan dapat dieksekusi pemegang saham sejak Oktober 2020 sampai April 2021. Dalam penerbitan saham baru dan penawaran umum perdana itu, saham Bumi Benowo juga sudah mengantongi status sebagai saham syariah yang masuk Daftar Efek Syariah.

Per September 2019, perseroan memiliki aset senilai Rp 106,59 miliar yang terdiri dari aset lancar Rp 83,55 miliar dan aset tidak lancar Rp 23,04 miliar. Ekuitas Bumi Benowo tercatat Rp 102,1 miliar dan liabilitas Rp 4,49 miliar. Pada periode yang sama, perusahaan mencatatkan penjualan sebesar Rp 20,36 miliar dengan laba kotor 5,49 miliar dan laba bersihRp 3,94 miliar. Pendapatan tersebut naik 427,56% dari perolehan September 2018.

Perusahaan asal Surabaya tersebut sudah menunjuk PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi (lead underwriter) penawaran sahamnya. Saat ini penjamin emisi dalam periode penawaran umum IPO hingga 7 April. Perseroan memprediksi pencatatan saham di bursa pada 14 April.

Felix Soesanto menambahkan bahwa di tengah kondisi perekonomian yang kurang kondusif sekarang, perusahaan masih optimistis terhadap prospek industri e-commerce dan logistik yang menjadi target pasar pergudangan perusahaan. Kuatnya industri e-commerce dan perusahaan logistik pihak ketiga (third party logistics/3PL) terlihat ketika terjadi pembatasan mobilitas masyarakat di tengah pencegahan penyebaran virus corona. Kedua industri masih tetap kuat karena masyarakat mengandalkan pembelian online dan pengiriman barang sampai ke rumahnya.

Faktor lain yang mendukung perseroan adalah lokasinya yang strategis (hanya berjarak 3 Km dari Pelabuhan Teluk Lamong, dan 2 Km dari Jalan Lingkar Luar Barat/JLLB) serta potensi dikantonginya izin pusat logistik berikat (PLB). Pelabuhan Teluk Lamong adalah pelabuhan dengan manajemen yang terkomputerisasi pertama yang dibangun di Indonesia dan Asia. Pelabuhan yang merupakan hasil reklamasi pantai tersebut mengusung konsep ramah lingkungan dan dilengkapi dengan terminal curah kering (dry bulk port) serta segera dilengkapi terminal gas alam cair (LNG).



Sumber: BeritaSatu.com