BI Jaga Kurs Tak Sampai Rp 17.500, apalagi Rp 20.000 Per Dolar AS

BI Jaga Kurs Tak Sampai Rp 17.500, apalagi Rp 20.000 Per Dolar AS
Perry Warjiyo. ( Foto: Dok. Bank Indonesia )
Herman / AB Rabu, 1 April 2020 | 12:30 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dalam skenario outlook indikator utama ekonomi makro yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, nilai tukar rupiah dalam skenario berat di tengah ancaman virus corona (Covid-19) bisa mencapai Rp 17.500 per dolar AS, sementara untuk skenario sangat berat mencapai Rp 20.000 per dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo berkomitmen akan menjaga nilai tukar rupiah agar tidak sampai anjlok seperti dalam skenario berat maupun sangat berat tersebut. Perry juga menegaskan bahwa saat ini tingkat rupiah sudah memadai.

"Skenario-skenario yang berat ataupun sangat berat itu adalah sebagai suatu forward looking, antisipasi supaya itu tidak terjadi. Langkah yang kita lakukan adalah untuk mencegah agar skenario tersebut tidak terjadi," kata Perry Warjiyo dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Rabu (1/4/2020).

Perry menegaskan BI juga akan terus berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui triple intervention, yakni meningkatkan intensitas stabilisasi di pasar DNDF (domestic non-deliverable forward), pasar spot, dan juga pembelian SBN (surat berharga negara) dari pasar sekunder.

“Secara year to date, BI telah membeli SBN total Rp 172,5 triliun, di antaranya Rp 166,2 triliun adalah pembelian SBN dari pasar sekunder yang memang dilepas oleh investor asing,” kata Perry.

Skenario lainnya yang disampaikan menteri keuangan adalah pertumbuhan ekonomi akan menjadi 2,3% dalam kondisi berat dan minus 0,4% di kondisi sangat berat. Kemudian harga minyak mentah Indonesia di kondisi berat US$ 38  per barel dan kondisi sangat berat US$ 31 per barel, sedangkan inflasi dalam kondisi berat 3,9% dan sangat berat 5,1%.



Sumber: BeritaSatu.com