Perry Warjiyo:

Investor Global Confident terhadap Ekonomi RI

Investor Global Confident terhadap Ekonomi RI
Perry Warjiyo. ( Foto: Dok. Bank Indonesia )
Primus Dorimulu / DAS Kamis, 2 April 2020 | 14:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Para investor global masih percaya dan yakin (confident) terhadap ekonomi Indonesia. Kondisi ini perlu dimanfaatkan untuk penerbitan surat berharga negara (SBN). Dengan kepercayaan investor yang masih besar, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dijaga tidak turun di bawah 2,3% dan pada akhir tahun rupiah berada di level Rp 15.000 per dolar AS.

"Saya baru saja mengontak investor global. Mereka masih cukup confident terhadap Indonesia," kata Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo dalam jumpa pers online di Jakarta, Rabu (2/4/2020).

Dengan kepercayaan pasar yang masih besar itu, ia menyarankan agar penerbitan global bond dinaikkan dari saat ini US$ 8 miliar sambil tetap memperhatikan kapasitas pasar.

Lelang SBN pun perlu ditingkatkan. Lelang SBN pernah Rp 15 triliun dan Rp 20 triliun. Ke depan, lelang SBN bisa lebih besar.

"Recovery bond yang pernah disebutkan itu sebuah rencana," kata Perry. Jika daya serap SBN dan global bond bagus, jenis surat utang lain tidak diperlukan.


Bukan BLBI

Perry menegaskan, pihaknya tidak menerbitkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) untuk mendukung APBN. Untuk mengurangi defisit APBN, BI ikut di pasar sekunder dengan membeli SBN, baik surat utang negara (SUN) maupun surat berharga syariah negara (SBSN).

Tapi, ke depan, jika yield obligasi pemerintah sudah terlalu tinggi, jauh melebihi batas toleransi, BI akan masuk pasar perdana untuk membeli SUN dan SBN.

Kalau dalam kondisi normal, BI masuk pasar perdana, kesan yang muncul adalah bank sentral menambah jumlah uang beredar dan itu akan memicu inflasi. UU BI juga melarang bank sentral untuk masuk pasar primer SBN.

"Tapi, dalam kondisi abnormal, ketika tak ada pembeli dan yield sudah terlalu tinggi, BI menjadi sebagai lender of the last resort diperkenankan masuk pasar primer," ungkap Gubernur BI.

BI sebagai otoritas moneter selalu bertindak prudent. Demikian pula Kementerian Keuangan sebagai otoritas fiskal. Dalam situasi abnormal, BI masuk pasar primer untuk membeli SBN (SUN dan SBSN). Dana hasil penjualan SBN digunakan untuk menutup defisit APBN yang melebar karena stimulus ekonomi untuk menangani Covid-19.

"Jangan artikan pembelian SUN dan SBSN sebagai bailout. BI memberikan BLBI. Itu tidak benar," tegas Perry.

 

Rupiah Rp 15.000

BI tidak akan mengontrol devisa untuk menjaga nilai tukar rupiah. Perry yakin, rupiah yang sekarang ini bergejolak akan menuju Rp 15.000 per dolar AS di akhir tahun. Posisi rupiah saat ini undervalued.

UU Lalu Lintas Devisa tidak mengenal kontrol devisa. Lagi pula, kata Perry, saving-investment gap di Indonesia masih besar. Tabungan di Indonesia tidak cukup untuk membiayai pembangunan.

"Kita butuh investasi asing, baik sebagai investasi langsung maupun investasi portofolio untuk masuk ke saham dan obligasi," pasar Perry.

Oleh karena itu, lalu-lintas devisa tidak akan dikontrol. Apalagi Indonesia mau menerbitkan global bond. Lebih dari 80% hasil ekspor, kata Perry, sudah dibawa pulang oleh eksportir ke Indonesia. Devisa itu belum dikonversi ke rupiah.

"Kami belum ada rencana mewajibkan konversi dolar para eksportir itu ke rupiah. Kami memahami dunia usaha membutuhkan dolar ke depan," ungkap Perry.

BI memberikan fasilitas hedging kepada eksportir guna memastikan bahwa dolar tersedia pada kurs yang sama. "Domestic non-delivery forward adalah hedging yang kami siapkan bagi dunia usaha," kata Gubernur BI.

Bank sentral saat ini, kata Perry, mempersiapkan semua langkah yang harus diambil dalam kondisi abnormal. BI pun belum masuk pasar primer untuk membeli surat berharga yang diterbitkan pemerintah. Tapi, semua harus dipersiapkan.

"Kita siap payung sebelum hujan. Bukan ketika hujan datang baru kita mencari payung," jelas Gubernur BI memberikan analogi.

Perry mengimbau semua pihak untuk melangkah bersama. Masyarakat mengikuti arahan pemerintah dan para pelaku bisnis melangkah bersama pemerintah dan masyarakat.

Perry juga secara khusus memberikan perhatian kepada para tenaga medis yang menjadi terdepan dalam merawat pasien Covid-19. Juga para pelaku bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang saat ini kehilangan pendapatan.



Sumber: BeritaSatu.com