Pelemahan Berlanjut, Rupiah Ditutup di Rp 16.495/US$

Pelemahan Berlanjut, Rupiah Ditutup di Rp 16.495/US$
Petugas bank menghitung mata uang dolar diantara mata uang rupiah di sebuah bank di Jakarta. ( Foto: Beritasatu Photo / Mohammad Defrizal )
Lona Olavia / MPA Kamis, 2 April 2020 | 16:17 WIB


Jakarta, Beritasatu.com- Kurs rupiah lanjutkan tren pelemahannya pada perdagangan, Kamis (2/4/2020). Sempat melemah hingga Rp 16.555 per dolar AS mengutip data Bloomberg, rupiah akhirnya harus ditutup turun 45 poin (0,27 persen) ke Rp 16.495 per dolar AS.

Rupiah diproyeksi terus melemah jika pandemi corona (Covid-19) tidak segera terselesaikan. Apalagi, rupiah beberapa hari ini coba untuk menguji level terendahnya sepanjang sejarah, yaitu Rp 16.650 per dolar AS

“Nilai tukar rupiah dibayangi oleh banyak sentimen negatif di pasar, baik yang berasal dari eksternal dan internal. Jadi, rupiah kali ini melemah wajar sekali,” kata Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim kepada beritasatu.com, Kamis (2/4).

Dari eksternal, pasar ketakutan setelah briefing pers yang mengerikan dari Presiden AS Donald Trump Selasa malam, di mana ia memperingatkan warga Amerika akan "menyakitkan" dua minggu ke depan dalam memerangi virus corona bahkan dengan langkah-langkah sosial dengan cara menjaga jarak.

Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa jumlah kasus Covid-19 global mencapai 800.000 pada 1 April. Kemudian pandemik telah menunjukkan beberapa tanda-tanda akan ada peningkatan tajam dengan kasus-kasus global di jalur untuk mencapai satu juta dalam satu atau dua hari, karena pandemi tersebut sudah menyebar lebih dari 200 negara.

Selain itu, harga minyak naik tajam Kamis setelah Presiden Donald Trump menyatakan Rabu malam bahwa Rusia dan Arab Saudi akan membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang harga mereka dalam "beberapa hari". Harga minyak global telah turun sekitar dua pertiga tahun ini, memukul keras keuangan negara-negara yang bergantung pada pendapatan minyak untuk pendanaan.

Sedangkan, dari internal, pasar kecewa terhadap pernyataan Gubernur Bank Indonesia yang mengasumsikan bahwa rupiah bisa ke Rp.17.500 atau Rp.20.000 akibat pandemi virus corona yang saat ini terus bertambah di Indonesia, walaupun hari ini sudah direvisi oleh Gubernur BI namun seyogyanya Pemerintah dan BI harus bisa mengayomi masyarakat sehingga tidak terjadi kepanikan yang berlebihan.

“Skenario itu jangan diucapkan walupun sesakit-sakitnya, sebaiknya buat internal. Pada saat BI dan Pemerintah beri skenario itu pasar dengan sendirinya tarik dana besar-besaran dari dalam negeri,” kata Ibrahim.

Terkait prediksi rupiah hingga akhir tahun, ia pun memprediksi rupiah bisa lebih perkasa daripada prediksi BI yang Rp 15.000 per dolar AS, yakni Rp 14.500. “Rp 14.500 per dolar AS sampai akhir tahun. Virus corona itu beda dengan perang dagang,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com