OJK Sebut Kondisi Sektor Keuangan Masih Terjaga

OJK Sebut Kondisi Sektor Keuangan Masih Terjaga
Ilustrasi ( Foto: Beritasatu.com )
Lona Olavia / WBP Minggu, 5 April 2020 | 19:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan masih dalam kondisi terjaga. Intermediasi sektor ini masih membukukan kinerja positif dan profil risiko tetap terkendali meski perekonomian tertekan akibat merebaknya virus corona di banyak negara.

Di sektor perbankan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menyebutkan, rasio permodalan alias capital adequacy ratio (CAR) bank di Tanah Air masih tercatat baik di kisaran 22,42 persen. Begitupun dengan likuiditas. Untuk bank umum kegiatan usaha (BUKU) III dan IV rasionya masih di atas 200 persen. Senada, BUKU I dan II rasionya masih baik di atas 100 persen.

“Jadi, sampai dengan saat ini masih Ok, NPL (non performing loan) gross 2,79 persen dan net 1 persen juga masih bagus,” ungkap Heru Kristiyana dalam live streaming Perkembangan Industri Jasa Keuangan dan Kebijakannya, di Jakarta, Minggu (5/4/2020).

Baca juga: OJK: Indeks Saham Mulai Rebound

Di Industri Keuangan Non Bank (IKNB), Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Riswinandi menilai, sampai Februari 2020 masih dalam kondisi normal. Dari rasio solvabilitas (risk based capital/RBC) perusahaan asuransi, pembiayaan, dan dan pensiun masih tergolong baik. Namun ada investasi seperti saham dan kewajiban 30 persen dalam SBN yang mempengaruhi penilaian kesehatannya, untuk itu OJK keluarkan stimulus supaya bisa dipantau kondisi perusahaannya.

Baca juga: OJK Tindaklanjuti Perppu 1 Tahun 2020

Sementara Ketua Dewan Komisaris OJK Wimboh Santoso mengatakan secara umum sektor keuangan saat ini dalam kondisi tetap terjaga. “Kondisi perbankan secara umum misalnya masih ok. Suka atau tidak suka semua sektor sudah mengalami gangguan terutama dalam operasinya. NPL bisa diatasi, namun cashflow bisa terganggu,” ucapnya.

Dalam kondisi ini, ia mengimbau agar investor jangan berpikir pada target kinerja akhir tahun. Yang penting saat ini adalah perusahaan keuangan bisa mengurangi dampak negatif. Sebab, diyakini covid-19 ini segera reda, tinggal masalah waktu. “Baru setelah itu kita bicara proyeksi akhir tahun atau bahkan 2021, daripada bicara dan harus kita revisi-revisi, kan revisi di semester I jadi masih banyak waktu bagi perbankan,” pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com