Pekan Ini, IHSG Masih Berpotensi Melemah

Pekan Ini, IHSG Masih Berpotensi Melemah
Pengunjung melintas di depan layar elektrik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi II di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Kamis, 2 April 2020. IHSG kemarin sempat dibuka minus hingga penutupan sesi I, kemudian rebound di sesi II hingga akhirnya ditutup naik 65,64 poin atau 1,47 persen ke 4.531,68. ( Foto: Beritasatu Photo / Mohammad Defrizal )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Senin, 6 April 2020 | 08:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pelaku pasar tetap fokus pada permasalahan besar virus corona (Covid-19) yang terus mengancam jiwa manusia dan belum menunjukan tanda-tanda akan berakhir. Dampak dari Covid-19 menjadi ancaman bagi perekonomian dunia yang menjadi ganjalan bagi pasar. Diperkirakan tekanan bagi IHSG berpotensi bisa terjadi di pekan ini seiring ketidakpastian dari wabah Covid-19. Demikian menurut riset Valbury Sekuritas Indonesia, hari ini, Senin (6/4/2020)

Sentimen pasar dari dalam negeri:
Di akhir Maret lalu, pemerintah telah mengumumkan stimulus untuk menambah alokasi belanja dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebesar Rp 405 triliun. Dari total stimulus Rp 405 triliun, sebesar Rp 110 triliun untuk program perlindungan sosial dan Rp 75 triliun untuk kesehatan. Sementara Rp 150 triliun dialokasikan bagi pemulihan ekonomi dan Rp 70,1 triliun insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat (KUR). Konsekuensinya, dana extraordinary ini memicu peningkatan defisit anggaran hingga 5,07%. Sebenarnya, angka tersebut melewati ambang defisit dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Dalam penjelasan Pasal 12, defisit anggaran dibatasi maksimal 3% dari produk domestik bruto (PDB). Sebagai payung hukumnya, pemerintah mengeluarkan Perpu sebagai relaksasi kebijakan defisit APBN di atas 3%, paling tidak selama tiga tahun. Pemerintah mengeluarkan anggaran untuk meredam dampak Covid-19 untuk mampu menahan kejatuhan bagi perekonomian nasional.

Selain itu, Perppu No.1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan, (KSSK) menyebutkan bahwa pemerintah akan mengatur langkah-langkah extraordinary terkait kebijakan di sektor keuangan melalui perluasan kewenangan KSSK terutama untuk Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Salah satunya, mengatur BI dapat membeli SUN atau SBSN jangka panjang di pasar perdana membeli Repo surat berharga milik LPS apabila terjadi persoalan solvabilitas bank sistemik maupun bank non sistemik, memberikan pinjaman likuiditas jangka pendek atau pembiayaan jangka pendek syariah kepada bank sistemik maupun non sistemik. Langkah ini pun diharapkan dapat menahan dampak tekanan bagi perekonomian nasional akibat dari Covid-19.

Sentimen pasar dari luar negeri:
Wabah Covid-19 yang menjadi fokus pelaku pasar global, hingga memunculkan konflik terkait adanya pernyataan antara Presiden AS Donald Trump dengan pemerintah Tiongkok. Setelah Trump mengatakan telah menerima laporan intelijen dan menyatakan keraguan tentang angka yang dilaporkan Tiongkok. Di pihak lain Tiongkok membantah pernyataan komunitas intelijen AS yang menuduh Tiongkok menyembunyikan data mengenai jumlah kasus dan kematian akibat Covid-19.



Sumber: BeritaSatu.com