Bank Indonesia-The Fed Sepakati Repo Line US$ 60 Miliar

Bank Indonesia-The Fed Sepakati Repo Line US$ 60 Miliar
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar. ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Herman / FMB Selasa, 7 April 2020 | 17:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) telah menyepakati penyediaan fasilitas repurchase agreement line (repo line) bagi Bank Indonesia (BI) senilai US$ 60 miliar.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengungkapkan, kerja sama dengan The Fed ini akan dimanfaatkan apabila BI memerlukan likuiditas dolar. Meskipun repo line ini tidak menambah cadangan devisa, tetapi akan sangat membantu penyediaan kebutuhan dolar saat terjadi keketatan di global.

“Komunikasi kami dengan The Federal Reserve sudah mencapai kesepakata, bahwa FedRes Amerika Serikat menyediakan Repo Line sejumlah US$ 60 miliar,” ungkap Perry Warjiyo saat media briefing perkembangan ekonomi terkini, Selasa (7/4/2020).

Perry mengatakan sejauh ini memang belum ada rencana untuk menggunakan atau tidak menggunakan repo line tersebut. Tetapi apabila diperlukan, sumber ini bisa digunakan.

Menurut Perry, The Fed juga hanya memberikan fasilitas repo line atau yang juga dikenal dengan Foreign and International Monetary Authorities (FIMA) repo facility ini kepada beberapa negara emerging market, termasuk dengan Indonesia yang dipandang The Fed memiliki prospek yang bagus.

Selain dengan the Fed, selama ini BI juga memiliki kerja sama repo line dengan Bank of International Settlements senilai US$ 2,5 miliar, dengan Monetary of Singapore US$ 3 miliar, dan dengan sejumlah bank sentral lainnya senilai US$ 500 juta sampai US$ 1 miliar.

“Ini adalah langkah-langkah kalau diperlukan likuditas dolar. Saat ini jumlah cadangan devisa kita lebih dari cukup. Kami mempunyai second line of defense dalam bilateral swap, dan juga dengan kerja sama repo line ini,” ungkap Perry.

Cadangan Devisa Maret Turun
Sementara itu untuk posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2020 tercatat sebesar US$ 121,0 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Februari 2020 sebesar US$ 130,4 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Perry menyampaikan, penurunan cadangan devisa pada Maret 2020 antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan keperluan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah kondisi “extraordinary” karena kepanikan di pasar keuangan global dipicu pandemi Covid-19 secara cepat dan meluas ke seluruh dunia. Kepanikan pasar keuangan global ini telah mendorong aliran modal keluar Indonesia dan meningkatkan tekanan Rupiah khususnya pada minggu kedua dan ketiga bulan Maret 2020.

“Cadangan devisa saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Perry.

Di luar cadangan devisa dan juga repo line, Perry mengatakan BI juga memiliki second line of defense. Meskipun BI merasa cadangan devisa yang dimiliki lebih dari cukup, menurutnya second line of defense ini bila diperlukan dapat digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan juga ekonomi.

“Kami mempunyai kerja sama swap bilateral dengan (Bank Sentral) Tiongkok sebesar US$ 30 miliar, dengan Jepang sekitar US$ 22,76 miliar, demikian juga dengan Singapura sekitar US$ 7 miliar maupun Korea Selatan sekitar US$ 10 miliar,” ungkap Perry.



Sumber: BeritaSatu.com