Fokus ke Rupiah, Bank Indonesia Tidak Berencana Turunkan Suku Bunga

Fokus ke Rupiah, Bank Indonesia Tidak Berencana Turunkan Suku Bunga
Ilustrasi Bank Indonesia ( Foto: The Jakarta Globe )
Herman / FMB Selasa, 7 April 2020 | 18:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan, inflasi yang rendah pada Maret 2020 sebesar 0,1 persen (MtM) dan 2,96 persen (YoY) memang membuka peluang bagi Bank Indonesia (BI) untuk kembali menurunkan suku bunga acuan. Namun BI, menurut Perry, akan sangat berhati-hati dalam menggunakan ruang tersebut. Sebab menurutnya yang saat ini diprioritaskan adalah stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Inflasi kita pada Maret 2020 memang rendah, dan kemudian memang ada risiko penurunan pertumbuhan ekonomi. Kalau dari sisi kebijakan suku bunga, memang masih ada ruang untuk penurunan suku bunga. Tapi masalahnya, apakah kita ingin menggunakan? Di sinilah saya sampaikan, BI akan sangat hati-hati karena pertimbangan stabilitas nilai tukar rupiah. Sebab kondisi pasar keuangan global masih mengandung ketidakpastian yang tinggi, sehingga prioritas sekarang adalah stabilitas eksternal ini, prioritas sekarang adalah stabilisasi nilai tukar rupiah, meskipun kami punya ruang untuk penurunan suku bunga,” kata Perry Warjiyo dalam media briefing perkembangan ekonomi terkini, Selasa (7/4/2020).

Perry menegaskan, BI juga sudah menempuh kebijakan moneter yang akomodatif. BI antara lain sudah melakukan injeksi likuiditas atau quantitative easing mendekati Rp 300 triliun sebagai langkah mitigasi dampak Covid-19.

“Masalahnya, bagaimana likuiditas yang lebih dari cukup ini bisa dimanfaatkan ke sektor riil? Di sinilah kenapa stimulus fiskal dari pemerintah itu mendorong ekonomi riil, meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelas Perry.

Selain menurunkan suku bunga kebijakan BI7DDR pada Februari dan Maret masing-masing sebesar 25bps, bauran kebijakan yang ditempuh BI dalam memitigasi dampak Covid-19 antara lain meningkatkan intensitas triple intervention di pasar spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder; menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Valas bank umum konvenional dari semula 8 persen menjadi 4 persen; memperpanjang tenor repo SBN dan lelang tiap hari untuk memperkuat pelonggaran likuidtas rupiah dan menambah frekuensi lelang FX Swap menjadi setiap hari untuk memastikan kecukupan likuiditas; memperluas jenis underlying transaksi DNDF sehingga dapat mendorong lindung nilai atas kepemilikan Rupiah di Indonesia; menurunkan GWM Rupiah sebesar 50bps untuk bank yang melakukan kegiatan ekspor-impor, pembiayaan kepada UMKM dan/atau sektor prioritas lain; melonggarkan ketentuan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM); serta menyediakan uang higienis, menurunkan biaya SKNBI, penetapan MDR QRIS 0 persen untuk merchant usaha mikro, dan mendukung penyaluran dana nontunai program-program pemerintah seperti Program Bantuan Sosial PKH dan BNPT, Program Kartu Prakerja, dan Kartu Indonesia Pintar.

Terkait kondisi nilai tukar rupiah terkini, Perry mengungkapkan saat ini nilainya bergerak stabil dan cenderung menguat. Pada Selasa, 7 April 2020, rupiah diperdagangkan sekitar Rp 16.125 per dolar AS, menguat Rp 225 per dolar AS atau 1,56 persen dari penutupan perdagangan di hari sebelumnya. BI juga meyakini nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dan menguat hingga mendekati Rp 15.000 per dolar AS pada akhir 2020.



Sumber: BeritaSatu.com