Masih Undervalued, Rupiah Diyakini Menguat Sampai Rp 15.000

Masih Undervalued, Rupiah Diyakini Menguat Sampai Rp 15.000
Karyawan bank menghitung uang dolar Amerika Serikat saat penukaran mata uang tersebut di Bank BCA Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia, di Jakarta, kemarin. Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah kemarin mencapai Rp16.273 karena kepanikan pasar akan penyebaran virus Corona. ( Foto: Beritasatu.com / Defrizal Mohammad )
Herman / FMB Rabu, 8 April 2020 | 13:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Meskipun rupiah mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir akibat wabah virus corona (Covid-19), Bank Indonesia meyakini kurs rupiah akan kembali ke kisaran Rp 15.000 pada akhir 2020.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan, turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh kepanikan pasar keuangan global. Sehingga berdasarkan perhitungan fundamental, seharusnya kurs rupiah bisa berada pada level Rp 15.000

“Kami perkirakan dengan langkah stabilisasi dan perkembangan ke depan, Insyaallah di akhir tahun bisa cenderung menguat ke Rp 15.000 per dolar AS. Alasannya karena tingkat nilai tukar rupiah yang sekarang ini sekitar Rp 16.200-an itu secara fundamental undervalue (terlalu murah),” kata Perry Warjiyo saat megikuti Rapat Kerja (Raker) virtual bersama Komisi XI DPR-RI, Rabu (8/4/2020).

Perry menjelaskan, bila nilai tukar rupiah diukur dari sisi inflasi, dari sisi perbedaan suku bunga di dalam maupun luar negeri, serta dari sisi neraca pembayaran, seharusnya nilai tukar rupiah tidak turun seperti kondisi saat ini.

“Kondisi sekarang ini kenapa Rp 16.200 karena memang kondisi globalnya kan tidak menentu. Premi risikonya kan tinggi yang berkaitan dengan kepanikan di pasar global. Makanya ke depan kami perkirakan akan stabil dan cenderung menguat ke Rp 15.000. Faktor-faktor fundamental akan lebih berpengaruh dan mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah,” paparnya.

Perry menegaskan, Bank Indonesia juga akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar. Untuk itu, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas stabilisasi di pasar DNDF (Domestic Non Deliverable Forward), pasar spot, dan juga pembelian SBN (Surat Berharga Negara) dari pasar sekunder.

“Kami akan terus menjaga stabilitas rupiah sebagai salah satu mandat Bank Indonesia, di samping mengendalikan inflasi. Kami akan berada di pasar, melakukan stabilisasi melalui pasar spot, DNDF dan juga pembelian SBN di pasar sekunder, khususnya pada periode capital outflow,” ungkap Perry.



Sumber: BeritaSatu.com