IEEFA Sarankan Proyek Listrik 35.000 MW Ditunda Sampai Covid-19 Reda

IEEFA Sarankan Proyek Listrik 35.000 MW Ditunda Sampai Covid-19 Reda
Pekerja berada di proyek pembangunan rumah turbin untuk PLTA Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, 9 Juli 2018. PT PLN (Persero) membangun PLTA Jatigede berkapasitas 2x55 MW yang merupakan program 35.000 MW dengan memanfaatkan air dari Waduk Jatigede. ( Foto: Antara / Hafidz Mubarak A )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Rabu, 8 April 2020 | 16:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Lembaga riset keuangan energi internasional Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) mendesak pemerintah Indonesia untuk membatalkan rencana pembangunan PLTU guna menyelamatkan keuangan PLN yang telah diterpa krisis virus corona (Covid-19).

Di dalam laporannya, Direktur Riset Keuangan Energi IEEFA Melissa Brown mengungkapkan berbagai tekanan baru yang muncul akibat krisis Covid-19 yang dapat menghancurkan keuangan PLN dan kemudian dapat menghantam keuangan negara. Antara lain disebutkan bahwa dukungan subsidi dan insentif fiskal bagi PLN di tahun 2020 dan 2021 harus naik setidaknya sebanyak 85 persen atau naik sebanyak Rp 55 triliun.

"Ditambah dengan berbagai komitmen investasi PLN, menjadi pertanyaan besar apakah negara akan sanggup untuk menopang PLN yang bebannya akan semakin meningkat," kata Melissa.

Untuk melindungi PLN dan keuangan negara, Melissa menyarankan pemerintah mengkaji ulang rencana pembangunan PLTU baru oleh para IPP (independent power producers). Estimasi IEEFA berdasarkan rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2019 menunjukkan bahwa di tahun 2021 akan ada 23.000 megawatt dari program 35.000 megawatt yang akan online.

"Kewajiban membayar kepada para produsen listrik swasta yang dikerap merupakan capacity payment, akan menjadi beban besar bagi PLN. Maka dari itu, PLN perlu didukung untuk melakukan negosiasi ulang perjanjian jual beli dan bahkan pembatalan proyek yang belum terealisasi seperti PLTU Jawa 9 dan 10 agar dapat meringankan beban keuangan PLN dan menyelamatkan kesehatan keuangan BUMN yang menjadi penopang perekonomian Indonesia," lanjutnya.

Melissa mengatakan proyek listrik 35.000 megawatt apabila terus dilaksanakan akan menjadi momok bagi keuangan dan perekonomian Indonesia yang kini sedang diterpa badai corona. "Langkah bijak adalah untuk memangkas target-target tersebut dan memprioritaskan investasi untuk perkuat jaringan tenaga listrik dan mendukung pasokan listrik yang terjangkau dan dapat diandalkan oleh sektor-sektor yang akan bangkit di era pascapandemi," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com