Covid-19 Ancam Stok Pangan dan Volatilitas Harga

Covid-19 Ancam Stok Pangan dan Volatilitas Harga
Ilustrasi petani padi. (Foto: Beritasatu Photo / Ruht Semiono)
Herman / FMB Rabu, 8 April 2020 | 19:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Penyediaan bahan kebutuhan pokok menjadi tantangan yang perlu diperhatikan di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Pengelolaan dan pemetaan stok pangan dipandang menjadi kunci untuk menjaga harga pangan agar tetap stabil. Selain itu, akses pangan di zona merah pun menjadi hal yang tidak bisa dikesampingkan.

Peneliti Center for Food, Energy and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Dhenny Yuartha Junifta menyampaikan, saat ini yang tengah dihadapi sektor pertanian atau pangan bukan hanya wabah Covid-19, tetapi juga perubahan iklim. Hal tersebut memberikan ancaman volatilitas harga dan juga stok pangan.

Dari sejumlah riset yang dikutip Dhenny, ada sejumlah risiko kegagalan panen pada tahun ini dan tahun-tahun ke depan. Misalkan saja dari riset McKinsey Global Institute, kemungkinan ada sekitar 19% penurunan hasil panen biji-bijian, termasuk di dalamnya adalah padi, gandum dan kedelai.

Di sisi lain, produksi saat terjadinya pandemi Covid-19 juga memberi tantangan besar. Meskipun pemerintah mengkalim ketersediaan pangan nasional masih cukup dalam beberapa bulan ke depan, namun saat pandemi Covid-19 terjadi, terjadi penurunan produktivitas pertanian. Padahal bulan Maret-April merupakan jadwal panen pertama.

“Ketika terjadi pandemi Covid-19, banyak buruh pertanian yang mengalami hambatan ketika akan memanen hasil pertaniannya akibat adanya pembatasan-pembatasan yang diberlakukan. Dari beberapa riset menyebutkan, penurunan tenaga kerja pertanian semasa pandemi ini bisa sampai 4%,” kata Dhenny di acara diskusi yang digelar Indef, Rabu (8/4/2020).

Selain itu, investasi di sektor pertanian juga menurun. Kemudian kegiatan impor bahan pangan juga akan terganggu lantaran banyak negara yang saat ini tengah fokus untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Melihat tantangan tersebut, Dhenny mengatakan pemerintah harus segera melaksanakan targeting penanganan Covid-19. Sebab hal ini akan berimplikasi pada ketersedian pasokan pangan untuk beberapa bulan ke depan.

“Ketika targetingnya tidak ada, misalnya bulan ini pemerintah melakukan apa, bulan depan melakukan apa, ini akan berimplikasi pada penanganan Covid-19 yang lebih panjang lagi. Pasokan dan kebutuhan pangan bisa menjadi lebih membengkak. Kementan memang memastikan pangan akan aman sampai Agustus. Masalanya ketika penyelesaian Covid-19 lebih dari bulan Agustus, ini akan seperti apa? Sehingga akan berimplikasi pada pasokan dan kebutuhan pangan,” ujar Dhenny.

Kecepatan importasi pangan menurutnya juga menjadi hal yang penting. Sebab disamping hambatan-hambatan yang dilakukan beberapa negara untuk melakukan ekspor ke negara lain, saat ini masih ada beberapa hambatan percepatan impor. Misalnya saja impor daging sapi yang prosesnya membutukan waktu sekitar 30 hari.

“Pemetaan pasokan dan distribusi kebutuhan pangan zona merah juga harus diperhatikan. Karena jumlah-jumlah yang disampaikan adalah jumlah secara agregat. Masalahnya, kita perlu menggunakan perencanan yang jauh lebih matang terkait dengan kantong-kantong produksi dan kantong-kantong zona merah terkait penyebaran Covid-19. Misalkan ketika satu pulau Jawa melakukan PSBB, lantas bagaimana suplai mereka terhadap provinsi lain yang selama ini menyerap produk dari Pulau Jawa,” ungkap Dhenny.



Sumber: BeritaSatu.com