Penerimaan Pajak Diprediksi Hanya Tembus Rp 1.452 - 1.514 triliun

Penerimaan Pajak Diprediksi Hanya Tembus Rp 1.452 - 1.514 triliun
Menkeu Pastikan Adanya Kekurangan Penerimaan Pajak 2019 ( Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV )
Lona Olavia / EHD Kamis, 9 April 2020 | 13:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memprediksi penerimaan perpajakan akan berada di kisaran Rp 1.452 - 1.514 triliun. Jauh lebih rendah dibandingkan realisasi tahun lalu yang mencapai Rp 1.462 triliun.

"Kondisi ini akan mendorong pelebaran defisit anggaran yang diproyeksikan akan mencapai Rp 852 triliun atau setara 5,07 persen terhadap PDB," sebut Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah Redjalam dalam siaran pers, Kamis (9/4/2020).

Meskipun demikian, Indonesia tidak sendiri, negara lain juga diprediksikan akan mengalami kondisi serupa. Negara tetangga Malaysia misalnya dengan tambahan insentif sebesar 250 miliar Ringgit Malaysia, defisit anggaran Malaysia akan berada dikisaran 4,5 persen terhadap PDB lebih tinggi dibandingkan defisit pada tahun lalu yang mencapai 3,4 persen.

Bahkan Perancis berencana meningkatkan defisit anggarannya hingga 7 persen.  "Menimbang potensi risiko di atas, CORE Indonesia merekomendasikan tiga hal dalam pembiayaan defisit fiskal pemerintah," ucapnya.

Pertama, Pemerintah hendaknya mendahulukan penerbitan surat utang atau SUN domestik berdenominasi Rupiah dengan mengutamakan skema pembelian oleh Bank Indonesia. Sentimen pasar keuangan global saat ini masih sangat negatif akibat ketidakpastian yang dipicu oleh pandemi Covid-19, yang berarti minat pembeli sangat rendah.

Penerbitan SUN Global di tengah kondisi ini akan memaksa pemerintah meningkatkan insentif berupa bunga kupon yang lebih tinggi dan atau tenor yang sangat panjang. Itu terbukti dengan diterbitkannya SUN global bertenor 50 tahun baru-baru ini.

Padahal, penerbitan SUN domestik dengan pola pembelian oleh BI memungkinkan pemerintah untuk menetapkan suku bunga atau kupon SUN yang lebih rendah dengan tenor yang wajar.

"Dengan begitu pemerintah tidak akan dibebani oleh pembayaran bunga SUN yang tinggi dalam kurun waktu
yang panjang. Ekspansi moneter yang terjadi melalui pembelian SUN Domestik oleh BI diyakini tidak akan mendorong peningkatan inflasi yang berlebihan karena tekanan inflasi di tengah wabah Covid-19 cenderung menurun akibat rendahnya permintaan," pungkasnya.

Kedua, meskipun Rupiah dalam tekanan pelemahan akibat ketidakpastian pasar keuangan global, pemerintah tidak perlu terburu-buru menambah supply dollar dengan menerbitkan SUN Global.

Posisi Cadangan Devisa saat ini relatif masih cukup besar untuk membiayai intervensi Bank Indonesia dalam rangka stabilisasi nilai tukar. Selain Cadangan Devisa, Bank Indonesia juga memiliki second line of defense berupa fasilitas pinjaman IMF, perjanjian kerja sama swap arrangements dengan beberapa bank sentral, serta yang terakhir fasilitas Repo Line dari The Fed.

Ketiga, meskipun penerbitan SUN Global dibutuhkan karena kita memang kekurangan dollar akibat menurunnya ekspor, penerbitan SUN Global dapat dilakukan ketika wabah Covid-19 sudah mereda dan sentimen pasar mulai pulih. Di tengah kebijakan moneter global yang cenderung menurunkan suku bunga maka penerbitan SUN Global berpotensi mendapatkan permintaan yang tinggi pada bunga kupon yang lebih baik, dengan tenor yang wajar.



Sumber: BeritaSatu.com