Global Bond Tingkatkan Cadangan Devisa Jadi US$ 125 Miliar

Global Bond Tingkatkan Cadangan Devisa  Jadi US$ 125 Miliar
Perry Warjiyo. ( Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia )
Herman / MPA Kamis, 9 April 2020 | 15:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Menyusul diterbitkannya global bond sebesar US$ 4,3 miliar, cadangan devisa Indonesia pada pekan depan dipastikan bakal meningkat. Untuk posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2020 tercatat sebesar US$ 121 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Februari 2020 sebesar US$ 130,4 miliar.

“Cadangan devisa akan meningkat. Di akhir bulan lalu cadangan devisanya US$ 121 miliar. Insya Allah minggu depan akan mendekati ke angka sekitar US$ 125 miliar, karena tentu saja Ibu Menteri Keuangan sudah mengumumkan penerbitan global bond US$ 4,3 miliar. Sekarang ini sedang dalam proses, tentu saja administrasi dan proses settlement. Begitu prosesnya selesai, Insya Allah minggu depan cadangan devisa kita akan mendekati angka US$ 125 miliar,” kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, di acara pemaparan Perkembangan Ekonomi Terkini, Kamis (9/4/2020).

Perry juga memastikan bahwa cadangan devisa Indonesia saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah.

Di luar cadangan devisa, Perry mengatakan BI juga memiliki second line of defense melalui kerja sama swap bilateral dengan Bank Sentral Tiongkok sebesar US$ 30 miliar, dengan Jepang sekitar US$ 22,76 miliar, demikian juga dengan Singapura sekitar US$ 7 miliar, maupun Korea Selatan sekitar US$ 10 miliar.

Selain itu, bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) juga telah menyepakati penyediaan fasilitas repurchase agreement line (repo line) bagi BI senilai US$ 60 miliar. Selain dengan The Fed, selama ini BI juga memiliki kerja sama repo line dengan Bank for International Settlements senilai US$ 2,5 miliar, dengan Monetory Authority of Singapore US$ 3 miliar, dan dengan sejumlah bank sentral lainnya senilai US$ 500 juta sampai US$ 1 miliar.



Sumber: BeritaSatu.com