Pandemi Covid-19 Memukul Bisnis di Sektor Transportasi

Pandemi Covid-19 Memukul Bisnis di Sektor Transportasi
Truk barang. ( Foto: Antara )
Thresa Sandra Desfika / FER Jumat, 10 April 2020 | 18:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi virus corona (Covid-19) telah menekan bisnis di sektor transportasi nasional dan merata di seluruh moda transportasi.

Baca: Kadin Usulkan Insentif Usaha Transportasi

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perhubungan telah melakukan rapat dengan para pelaku usaha transportasi yang berada di bawah naungannya. Dari rapat tersebut, disimpulkan dampak pandemi Covid-19 ini terasa di banyak aspek pada bisnis transportasi.

"Dari rapat yang telah kami gelar, dapat disimpulkan masing-masing moda sudah mulai terdampak dari pandemi Covid-19 ini," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perhubungan, Carmelita Hartoto, dalam keterangan resmi yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Jumat (10/4/2020).

Carmelita mengatakan, moda transportasi darat terdampak dari kebijakan social distancing dan physical distancing. Kebijakan yang ditindaklanjuti dengan sosialisasi masif kepada masyarakat untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah, sekaligus penutupan lokasi wisata telah membatasi pergerakan masyarakat di luar rumah.

Baca: INSA Minta Optimalisasi Tol Laut Libatkan Semua Pihak

"Pelaku usaha sangat memahami tujuan dari kebijakan tersebut. Hanya saja, di saat bersamaan terjadi penurunan omzet angkutan jalan sejak dua bulan lalu," jelasnya.

Menurut Carmelita, Kadin Indonesia Bidang Perhubungan mencatat penurunan omzet angkutan barang telah mencapai 25 persen hingga 50 persen. Sedangkan penurunan pada angkutan penumpang telah mencapai 75 persen hingga 100 persen pada seluruh moda, baik moda angkutan antarkota maupun angkutan perkotaan non-PSO. Bahkan kemerosotan omzet untuk angkutan pariwisata telah mencapai 100 persen.

"Kondisi penurunan omzet diprediksi justru akan lebih parah pada enam bulan ke depan. Hal ini seiring perpanjangan masa darurat pandemi Covid-19 hingga 29 Mei 2020," tandasnya.

Baca: Kadin Minta Pemerintah Beri Stimulus hingga Rp 1.600 T

Jika kondisi ini masih berkepanjangan dan iklim bisnis belum dapat kembali pada setahun ke depan, maka diprediksi akan banyak pelaku usaha angkutan jalan yang akan gulung tikar.

Di moda transportasi udara, lanjut Carmelita, penurunan frekuensi sudah sejak awal 2020. Di awali penutupan rute ke Tiongkok, kemudian dilanjutkan penutupan rute ke Saudi Arabia dan Korea Selatan (Korsel), ditambah tidak adanya kegiatan bepergian atau traveling telah menekan pendapatan operator maskapai antara 20 persen hingga 50 persen.

"Bukan hanya perusahaan yang mengalami kesulitan, tentu karyawan perusahaan penerbangan yang berjumlah puluhan ribu ini dapat terkena dampak perumahan,” sebut Carmelita.

Baca: Soal Lockdown, Kadin Ikuti Pemerintah

Carmelita menyebutkan, pandemi Covid-19 juga mengganggu cash flow perusahaan moda transportasi laut. Kondisi keuangan perusahaan moda transportasi laut akan mengalami negative cash flow. Kinerja moda transportasi laut per Maret 2020 mengalami penurunan sekitar 15 persen dan diperkirakan kondisi ini semakin menurun sampai beberapa bulan ke depan akibat penurunan distribusi.

Di sisi lain, account receivable atau catatan piutang perusahaan moda transportasi laut juga mengalami peningkatan akibat pelanggan jasa angkutan laut yang belum dapat membayar tagihannya.

"Tidak banyak yang bisa dilakukan para pelaku usaha transportasi nasional saat ini, maka diharapkan segera ada stimulus agar meringankan sedikit beban berat pelaku usaha transportasi nasional," tandas Carmelita.



Sumber: BeritaSatu.com