Menguat, Kurs Rupiah Sentuh Level Rp 14.800

Menguat, Kurs Rupiah Sentuh Level Rp 14.800
Ilustrasi rupiah. (Foto: Beritasatu Photo / Mohammad Defrizal)
Lona Olavia / MPA Kamis, 30 April 2020 | 16:20 WIB


Jakarta, Beritasatu.com- Kembali menguat tajam, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (30/4) ditutup menguat 413 poin atau 2,70 persen di level Rp 14.881 per dolar AS. Pada perdagangan kemarin, nilai tukar rupiah juga berakhir menguat 0,97 persen. Sementara itu, kurs rupiah menyentuh posisi Rp 15.157 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) atau menguat 258 poin atau 1,67 persen dari posisi Rp 15.415 per dolar AS pada Rabu (29/4).

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, dalam perdagangan minggu depan rupiah kemungkinan akan dibuka melemah tetapi ditutup menguat tipis. “Di kisaran Rp 14.800-14.540 per dolar AS,” sebutnya, Kamis (30/4/2020).

Salah satu sentimen yang dipantau adalah fundamental ekonomi Indonesia telah teruji dan begitu kokoh usai data ekonomi eksternal positif membawa angin segar bagi pasar valas dan obligasi. Di samping itu, Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) telah berhasil menyelamatkan perekonomian berkat strategi bauran yang diterapkan bersama-sama sehingga bisa menenangkan pasar, apalagi pasca penjualan perdana SUN di bursa Singapura dan Bursa Perancis dibarengi dengan suku bunga tinggi menambah daya gedor tersendiri bagi pelaku pasar.

“Disinilah titik balik pelaku pasar kembali percaya terhadap pasar dalam negeri sehingga wajar kalau arus modal asing kembali masuk begitu deras dan membawa mata uang garuda kembali digdaya dan kedigdayaannya melampaui mata uang asing lainnya,” ucapnya.

Sementara dari eksternal, fokus telah berubah dari Federal Reserve ke Bank Sentral Eropa, karena dewan pemerintahan harus memutuskan pada hari Kamis jika lebih dari 1 triliun euro ($ 1,1 triliun) dalam pembelian aset dan rencana pinjaman yang cukup besar untuk menjaga perusahaan dan rumah tangga berdaya. Federal Reserve pun mempertahankan suku tidak berubah pada hari Rabu, tetapi menyatakan keinginan untuk melakukan lebih banyak untuk mendukung perekonomian jika ini diperlukan.

"Kami akan terus menggunakan alat kami untuk memastikan bahwa pemulihan, ketika tiba, akan sekuat mungkin. Mungkin itu kasus bahwa ekonomi akan membutuhkan lebih banyak dukungan dari kita semua jika pemulihan ingin menjadi kuat," kata Ketua The Fed Jerome Powell.

Lalu , produk domestik bruto AS turun 4,8 persen pada kuartal pertama, penurunan ekonomi terburuk sejak 2008, melebihi perkiraan ekonom untuk penurunan 4 persen dalam output, dan kuartal kedua kemungkinan akan jauh lebih buruk.



Sumber: BeritaSatu.com