The Hero Strikes Back?

The Hero Strikes Back?
Selasa, 27 Juli 2010 | 07:05 WIB

Pada 2007 Komisi Pemberantasan Korupsi kita, melakukan studi banding ke Nigeria.

Kehadiran lembaga antikorupsi dan tindak pencucian uang, EFCC, menjadikan Nigeria menjadi satu-satunya Negara Afrika yang tidak punya utang.
 
EFCC, Komisi [Pemberantasan] Kejahatan Keuangan dan Ekonomi Nigeria, memang tak hanya dikenal galak menindak para koruptor dan pelaku suap, juga canggih mengembalikan harta kekayaan negara yang sempat atau hampir raib.
 
Mal Nuhu Ribadu, mantan Ketua EFCC yang “terlempar” dari negaranya, berencana akan kembali ke tanah kelahirannya dalam waktu dekat, seperti yang dilansir laman The Economist, edisi 7 Juli 2010. Setelah berada di “pengasingan” selama kurang lebih dua tahun.
 
Pemerintah Nigeria yang baru, di bawah Presiden Goodluck Jonathan, tampaknya dengan tangan terbuka akan menyambut kembalinya figur pemberantas korupsi tersebut. Bahkan Jonathan menyatakan tuduhan terhadap Ribadu –menerima suap-- akan dicabut.
 
Kelahiran EFCC
Ribadu, ketua pertama lembaga EFCC, lembaga yang dibentuk pada 2003. Pada masa itu, Presiden Nigeria, Olusegun Obasanjo, menginginkan adanya reformasi di negara penghasil tambang terbesar di benua Afrika tersebut.
 
Akibat sistem yang korup, para pejabat publik Nigeria banyak yang menyimpan harta di luar negeri dan kebal hukum. Maka, Obasanjo memilih Ribadu, ahli hukum yang dikenal jujur, militan, dan berani, dan membenci politisi maupun pengusaha yang korup.
 
Itu dibuktikannya selama 18 tahun mengabdi di angkatan kepolisian Nigeria, selalu Kepala Penuntutan dan Hukum.
 
Di bawah kepemimpinan Ribadu, lebih dari 1.000 kasus korupsi dan suap masuk pengadilan. Pada 2006, 31 dari 36 gubernur aktif di Nigeria diperiksa dan disidik oleh EFCC.
 
Sebelumnya, tak pernah dalam sejarah Nigeria pengusaha dan politisi disidik karena kasus suap.
 
Kurun waktu beberapa tahun setelah terbentuknya EFCC, indeks persepsi korupsi Nigeria terus membaik. Ini membuktikan kinerja EFCC tak tanggung-tanggung. Maka Presiden Obansanjo mengangkatnya kembali pada 2007, ketika masa tugas pertamanya habis.
 
EFCC juga berhasil meyakinkan bank-bank asing yang digunakan para koruptor Nigeria mencuci dan menyimpan uangnya, bahwa uang tersebut uang negara Nigeria. Hingga 2006, EFCC berhasil mengembalikan harta kekayaan negara $US 45 triliun.
 
Uang tersebut kemudian digunakan untuk melunasi utang-utang Nigeria hingga tuntas.
 
Pada 2007 Komisi Pemberantasan Korupsi kita, melakukan studi banding ke Nigeria. Di bawah pimpinan Taufiqurrahman Rukie, KPK melihat sepak terjang EFCC dalam menyidik para koruptor dan pengembalian asset negara.
 
Delegasi Indonesia pada tahun itu diterima Ribadu yang masih menjabat ketua EFCC. Menurut Taufiqurrahman, sepak terjang EFCC pantas dicontoh.
 
Serangan Balik Koruptor
Tapi tak ada yang abadi di dunia. Ketika di Nigeria kekuasaan berganti, nasib EFCC berubah. Setelah Presiden Obasanjo turun, naik Umaru Yar’Adua, April 2007. Arah angin pun berubah. Muncul serangan balik terhadap Ribadu.
 
Sang tokoh dituduh tidak jujur menerakan harta kekayaannya. Juga, Ribadu didakwa bahwa  EFCC di bawah kepemimpinannya hanya menghajar lawan-lawan politik sang presiden kala itu, Olusegun Obasanjo. Ribaldu dituduh menjalankan standar ganda.
 
Ribadu santai menjawab, itu semua bohong besar. Ia tahu, para penyerangnya adalah orang-orang putus asa karena strategi, taktik, dan kejulikannya berkorupsi sudah ketahuan.
 
Mereka mencoba menghancurkan dirinya yang dianggap sebagai penggerak, pemberi kekuatan, pengatur strategi membasmi korupsi. “Mereka hanya orang-orang putus asa,” kata Ribadu kepada wartawan BBC.co.uk, 5 Mei 2010.
 
Toh, “orang-orang putus asa” itu tak hentinya mengancam dan menjebak. Ribadu terpeleset. Ia menerima “suap” seorang gubernur dengan tujuan menjebak pak gubernur agar bisa diadili.
 
Tapi di pengadilan, gubernur itu berhasil membela diri. Bahwa Ribadu menaruh uang 15 juta poundsterling di bank sentral Nigeria, tak otomatis bahwa itu dari dia. Dua percobaan pembunuhan menimpanya kemudian.
 
Ribadu pun tak lagi santai. Ia pun cemas. “ Mereka ingin membunuh saya,” tutur Ribadu. Hadiah dari Bank Dunia, Jit Gill Memorial Award for Outstanding Public Service, 15 April 2008, tak membebaskannya dari ancaman.
 
Ketika itu inspektur jenderal kepolisian mengistirahatkannya dari EFCC agar ia belajar lagi di Institut Nasional Studi Kepolisian dan Strategi. Di tengah masa kursus ia diberhentikan, dan diminta “kursus” di Center for Global Development di Washington.
 
Tak ada pilihan lain, Ribadu berangkat ke Washington. Di Amerika, dan kadang di Inggris, tempat ia studi di Oxford, ia bermukim sebagai “pengungsi”.
 
Hal yang sama juga terjadi pada John Githongo, Kepala LSM anti gratifikasi Nigeria, yang akhirnya terbang ke Inggris pada 2005 setelah ancaman pembunuhan mengepungnya..
 
Waziri Sang Polwan
Seorang wanita bernama Farida Mzamber Waziri, menggantikannya dari Juni 2008 hingga saat ini, atas pilihan Senat.
 
Waziri seorang sarjana hukum yang kemudian menjadi polwan, polisi wanita. Biar belum sepopuler Ribadu, Waziri berpretasi mencolok di angkatan kepolisian Nigeria. Ia masuk pasukan khusus, x-squad, pasukan pemberantas korupsi dan penyelewengan.
 
Yang dilakukan Waziri pertama kali adalah memeriksa berkas-berkas koruptor yang dijebloskan ke penjara oleh Ribadu. Ternyata, banyak berkas hilang, hingga sewaktu-waktu terpidana bisa bebas.
 
Itulah tampaknya, di samping pergantian Presiden, yang memberi peluang para koruptor melakukan serangan balik. Segera, Waziri mereformasi manajemen kearsipan EFCC. Benar, serangan pun bisa dikurangi.
 
Waziri juga berhasil meminta ekstradisi dari Amerika Serikat untuk memulangkan bekas menteri Nigeria yang ngumpet di negeri Abang Sam (AS) itu.
 
Tapi benarkah para koruptor menghentikan serangan baliknya?
 
Dua tahun EFCC ditinggal Ribadu, muncul hasil riset yang tak mengenakan Nigeria. Awal bulan ini Reuters melansir hasil survei PBB terhadap lebih dari setengah perusahaan di Nigeria.
 
Hasil survei: para pengusaha mengaku bahwa mereka sedikitnya sekali dalam setahun menjadi korban pemerasan dan terpaksa menyuap birokrat dan atau polisi
 
Itu sebabnya Ribadi diminta pulang oleh Presiden Goodluck Ebele Jonathan. Pak Presiden juga berhasil membebaskan Ribadu dari segala tuntutan oleh pengadilan Nigeria dua bulan lalu, pada Mei 2010.
 
Memang, pro-kontra pembebasan itu muncul. Bahkan mereka yang mendukung Ribadu menyayangkan hal ini. Lebih baik Ribadu menghadapi pengadilan dan membuktikan dirinya bersih.
 
Tapi mungkin Goodluck Jonathan belum sepenuhnya memercayai lembaga pengadilan Nigeria terbebas dari mafia hukum, yang merangkak dan bangkit begitu Ribadu menjadi “pengungsi”.
 
Jadi, akankah Nigeria mengucapkan selamat datang Ribadu, dan The hero will strike back?
Sumber: -