Tiongkok Tegaskan Komitmen Kesepakatan Dagang dengan AS

Tiongkok Tegaskan Komitmen Kesepakatan Dagang dengan AS
Li Keqiang. (Foto: AFP)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Jumat, 22 Mei 2020 | 16:44 WIB

Beijing, Beritasatu.com - Meskipun hubungan AS-Tiongkok saat ini memanas karena isu virus corona (Covid-19) dan pengetatan listing perusahaan asing di Wall Street, Tiongkok tetap berkomitmen menjalankan tahap pertama kesepakatan dagang dengan AS.

"Kami akan bekerja sama dengan AS untuk mengimplementasikan tahap pertama kesepakatan dagang AS-Tiongkok. Tiongkok juga akan terus meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara lain demi manfaat bersama," kata Perdana Menteri Li Keqiang di Beijing, Jumat (22/5/2020).

Baca juga: Perang Finansial, Perusahaan Tiongkok Bakal Dipersulit Listing di Wall Street

Dalam dua tahun terakhir perang dagang AS-Tiongkok, Pemerintahan Donald Trump telah menerapkan hambatan atau bea impor terhadap produk Tiongkok senilai US$ 360 miliar. Tiongkok membalas dengan meningkatkan bea terhadap lebih dari 50 persen ekspor AS. Kedua negara berdamai dengan menandatangani kesepakatan dagang tahap pertama pada 15 Januari dan menunda penerapan tarif. Namun, belakangan ini, perdamaian AS-Tiongkok mulai terancam.

Dalam perjanjian Januari, Tiongkok berjanji akan meningkatkan impor barang dan jasa dari AS, tetapi dengan adanya virus corona, target tersebut menjadi tidak realistis. Sektor manufaktur dan kapasitas transportasi kedua negara terdampak Covid-19. Ditambah dengan melemahnya harga minyak dan komoditas lainnya, komitmen kedua negara semakin sulit terealisasi.

Wakil PM Tiongkok Liu He dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menkeu AS Steven Mnuchin awal bulan ini sepakat untuk mengusahakan kesepakatan dagang terus berjalan, dan juga bekerja sama di sektor kesehatan. Namun, Trump mengatakan negosiasi dengan Tiongkok berjalan alot dan AS bisa menghemat US$ 500 miliar jika memutuskan hubungan dengan Tiongkok.

Hari ini, Tiongkok juga tidak menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2020 karena ketidakpastian akibat virus corona. Di sisi lain, Beijing juga berencana mengeluarkan RUU yang memperketat pengawasan atas Hong Kong.

Pemerintah AS mengawasi terus perkembangan Tiongkok dengan Hong Kong. AS tidak menginginkan demokrasi di Hong Kong dibatasi oleh Tiongkok.



Sumber: Bloomberg