Ketegangan AS-Tiongkok Meningkat, Wall Street Melemah

Ketegangan AS-Tiongkok Meningkat, Wall Street Melemah
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. (Foto: AFP / Johannes Eisele)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Jumat, 22 Mei 2020 | 21:17 WIB

New York, Beritasatu.com - Bursa Amerika Serikat di Wall Street bergerak melemah pada awal perdagangan Jumat (22/5/2020) waktu setempat. Ketegangan AS-Tiongkok dan perkembangan vaksin virus corona (Covid-19) menjadi sentimen yang mewarnai pasar.

Dow Jones Industrial Average turun 0,45 persen, S&P 500 turun 0,31 persen, dan Nasdaq terkoreksi 0,04 persen. Sejak awal pekan hingga hari ini, Dow telah naik lebih dari 3 persen, S&P 500 naik 2,96 persen, dan Nasdaq naik 3 persen.

Menguatnya bursa AS ditopang oleh potensi penemuan vaksin Covid-19. Direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) Dr. Anthony Fauci akhirnya angkat bicara mengenai vaksin Covid-19 yang dikembangkan Moderna. Hari ini, dia mengatakan data dari Moderna terlihat menjanjikan.

Saham Moderna langsung naik 3 persen. Moderna mengatakan 45 pasien yang diberikan vaksin menunjukkan perkembangan antibodi terhadap Covid-19. Sebanyak delapan di antaranya bahkan berhasil menunjukkan antibodi penetralisir.

Ketegangan AS-Tiongkok meningkat. Tiongkok menyiapkan RUU keamanan nasional baru yang lebih ketat di Hong Kong. Hal ini berpotensi memicu gelombang protes antipemerintah oleh warga Hong Kong. Amerika tampaknya akan mendukung kelompok prodemokrasi Hong Kong menentang aturan baru tersebut. Di sisi lain, Tiongkok tidak akan menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2020 karena penuh ketidakpastian akibat Covid-19.

Sebelumnya, pada hari Rabu (20/5/2020), Senat AS meloloskan legislasi yang membatasi perusahaan Tiongkok melakukan listing di pasar modal AS atau menarik dana dari investor AS, kecuali mereka mematuhi peraturan dan standard audit Washington.

Rancangan undang-undang (RUU) tersebut melarang perusahaan yang dikendalikan oleh pemerintah asing untuk listing di bursa AS. RUU itu juga mengatakan, jika regulator AS tidak bisa mengaudit perusahaan selama tiga tahun berturut-turut, maka sahamnya akan dilarang diperdagangkan.



Sumber: CNBC.com