Petani Milenial dapat Peluang Bisnis Budi Daya Jamur Tiram

Petani Milenial dapat Peluang Bisnis Budi Daya Jamur Tiram
Ilustrasi panen jamur tiram. (Foto: Antara / Anis Efizudin)
Merdhy Pasaribu / MPA Jumat, 22 Mei 2020 | 21:43 WIB

Bogor, Beritasatu.com-Pandemi Covid-19 yang sedang melanda saat ini tidak menghalangi para siswa untuk tetap menerima pembelajaran. Meskipun dengan metode jarak jauh learning from home (LFH), mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor tetap antusias ikuti pembelajaran budi daya jamur tiram. Bahkan mendapat peluang bisnis dari budi daya jamur iiram yang dipelajarinya.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, pendidikan vokasi saat ini telah dituntun dengan era yang baru. “Saat ini pendidikan vokasi menjadi jawaban karena sekarang tidak hanya mengajarkan keterampilan dalam pendekatan intelektual tetapi juga sekaligus menyatukan sistem intelektual dengan manajemen orientasi seperti lapangan, dan praktis”, kata Syahrul, dalam keterangan tertulis, Jumat (22/5/2020).

Iyang Jaelani, petani milenial dari Jurusan Pertanian Prodi Agribisnis Hortikultura Polbangtan Bogor harus meninggalkan asrama dan pulang ke rumahnya di Sukabumi untuk mengikuti anjuran pemerintah dalam menekan penyebaran Covid-19. Namun dia tetap melakukan pendampingan kepada petani, kelompok tani atau pelaku usaha di bidang pertanian sebagai bentuk kegiatan pembelajaran.

 Kini Iyang memiliki lebih banyak waktu untuk mengaplikasikan ilmu dari proses perkuliahan dan belajar menjadi petani pengusaha.

Menurut Iyang, kegiatan pendampingan petani merupakan sarana untuk mengimplementasikan kegiatan pembelajaran yang telah dilalui, sehingga ilmu yang didapatkan bisa bermanfaat untuk semua orang.

“Selain mempelajari strategi di lapangan, saya juga bisa lebih mengenal potensi wilayah sehingga ke depan mampu memperbaiki tatanan ekonomi masyarakat, terlebih saya hidup di pedesaan yang secara umum bermata pencaharian sebagai petani,” jelasnya.

Iyang melakukan pendampingan di PT Mitra Selaras Cipta Pangan yang bergerak di bidang agribisnis jamur tiram, berdiri sejak tahun 2017 dan berlokasi di Kampung Cipeujeuh Desa Sukajaya Kabupaten Sukabumi. Pendirinya adalah Surya Lesmana yang juga sebagai ketua Asosiasi Petani Jamur Tiram Sukabumi.

Surya menuturkan perlunya saling bersinergi dalam menggenjot produksi pertanian, terutama menghadapi pandemi Covid-19.

Menurutnya, dampak pandemi ini sangat berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat terlebih terhadap daya beli masyarakat yang kian hari semakin berkurang. Namun tidak dengan jamur tiram. Surya berpendapat, komoditas jamur tiram pada masa pandemi Covid-19 ini permintaannya semakin meningkat terlebih saat petani lain mengurangi produksinya justru dirinya tetap berproduksi seperti biasanya.

“Setiap hari saya memanen jamur sebanyak 2.100 baglog dengan berat kurang lebih sampai 500 kg yang dipasarkan ke daerah Bogor dan Jakarta. Kita harus merenungi hikmah dibalik masalah ini. Bagi seorang pengusaha, keputusan yang diambil menentukan kondisi perusahaan kedepannya”, tutur Surya.

Selama pendampingan, Iyang juga mendapat bimbingan dari seorang Penyuluh senior di BPP Sukabumi, Siti Nurhanifah. Wanita yang akrab dipanggil Ifah ini lah yang mengantarkannya ke PT Mitra Selaras Cipta Pangan.

Sebagai penyuluh, Ifah mengatakan komoditas jamur tiram merupakan salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan oleh BPP Sukabumi. “Kedepan kita akan mengembangkan komoditas jamur ini menjadi lebih komersial yang akan bekerja sama dengan KWT binaannya. Rencananya kami akan mengolah jamur tiram menjadi aneka makanan, salah satunya adalah lapis jamur khas Sukabumi sehingga mampu memperlebar pemasaran jamur tiram dan meningkatkan nilai ekonominya,” ucapnya.

Komoditas jamur tiram memiliki prospek yang baik, selain pasarnya luas juga pengembangan produknya sangat beraneka ragam. Selain itu agribisnis jamur tiram merupakan agribisnis berkelanjutan dan ramah lingkungan, terbukti bahwa semua limbahnya mampu di daur ulang dan di manfaatkan kembali.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi juga menuturkan pembangunan SDM menjadi salah satu program prioritas Kemtan. Hal ini sejalan dengan visi misi Presiden Jokowi.

“Kemtan fokus mempercepat regenerasi petani ini, salah satunya melalui pendidikan vokasi. Dari pendidikan vokasi ini akan mendorong lahirnya petani milenial yang entrepreneurship,” ujar Dedi.



Sumber: BeritaSatu.com