ANALISIS

Masih Mau Berkelit, Jenderal?

Masih Mau Berkelit, Jenderal?
Selasa, 3 Agustus 2010 | 06:00 WIB

Persidangan Sjahril Djohan di PN Jakarta Selatan kemarin akhirnya menguak banyak hal, keterlibatan para jenderal polisi dalam kasus penggelapan pajak yang dilakukan Gayus H Tambunan.

Dalam dakwaannya jaksa menyebut Sjahril bersama Haposan Hutagalung menemui Brigjen (Pol) Raja Erizman di ruang kerja di Gedung Bareskrim Polri untuk membicarakan pembagian uang jika rekening Gayus Halomoan Tambunan senilai Rp 28 miliar dibuka penyidik.
 
Fakta di persidangan juga mengungkapkan dalam pertemuan dengan Raja sekitar bulan September 2009 Haposan menulis rincian pembagian “komisi” jika rekening Gayus bisa dibuka:  masing-masing Bareskrim 5, Kejaksaan 5, Hakim 5, Gy [Gayus] 5, HP [Haposan] + lawyer 5.
 
Fakta itu sebenarnya cukup menohok kepolisian dan menegasikan pernyataan Kepala Bareskrim  Mabes Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi, 20 Juli lalu yang mengatakan tim penyidik  belum menemukan  indikasi keterlibatan Brigjen Raja Erizman dan Brigjen Edmon Ilyas dalam kasus mafia hukum perkara Gayus Tambunan.
 
Berbeda dengan perwira penyidik kasus ini yang diseret ke meja hijau kedua jenderal itu bahkan tak harus menghadapi persidangan etik. Kompol Arafat, salah satu penyidik kasus Gayus pun sempat menyinggung keterlibatan dua atasannya itu. Namun Mabes Polri bergeming dan hanya mencopot kedua jenderal karena alasan kelalaian.
 
Namun yang terungkap di persidangan Sjahril Djohan kemarin, seolah membalik semua “temuan” polisi. Apalagi dakawaan yang dibacakan jaksa, bukan sekadar menggunakan bukti pernyataan sepihak melainkan juga bukti-bukti yang diperoleh dari hasil penyidikan polisi.
 
Ketika diminta tanggapannya tentang dakwaan jaksa itu, Juru Bicara Mabes Polri Irjen Edward Aritonang memilih “jurus aman” dan hanya memberikan kalimat pendek akan mengecek.
 
Masihkah para jenderal polisi akan berkelit?
Sumber: -