OJK Sebut Masa Pandemi Jadi Momentum Rancang Ulang Tatanan Ekonomi
INDEX

BISNIS-27 536.336 (-8.53)   |   COMPOSITE 6258.57 (-117.49)   |   DBX 1209.79 (-8.41)   |   I-GRADE 185.201 (-2.65)   |   IDX30 531.719 (-10.66)   |   IDX80 142.034 (-2.63)   |   IDXBUMN20 420.424 (-10.91)   |   IDXESGL 146.593 (-2.63)   |   IDXG30 145.132 (-2.4)   |   IDXHIDIV20 467.118 (-7.66)   |   IDXQ30 151.699 (-2.41)   |   IDXSMC-COM 284.118 (-7.16)   |   IDXSMC-LIQ 356.602 (-8.82)   |   IDXV30 142.342 (-4.2)   |   INFOBANK15 1078.54 (-21.79)   |   Investor33 455.425 (-8.01)   |   ISSI 183.228 (-2.96)   |   JII 646.305 (-8.91)   |   JII70 225.666 (-3.3)   |   KOMPAS100 1262.11 (-21.63)   |   LQ45 987.949 (-19.51)   |   MBX 1725.55 (-35.56)   |   MNC36 336.055 (-6.2)   |   PEFINDO25 332.023 (-6.6)   |   SMInfra18 316.891 (-6.04)   |   SRI-KEHATI 389.555 (-7.35)   |  

OJK Sebut Masa Pandemi Jadi Momentum Rancang Ulang Tatanan Ekonomi

Minggu, 31 Mei 2020 | 19:39 WIB
Oleh : Iman Rahman Cahyadi / CAH

Jakarta, Beritasatu.com - Terpuruknya para pangusaha akibat memburuknya ekonomi selama pandemi Covid-19, bisa mengancam perbankan dan industri jasa keuangan di Indonesia. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso, mengatakan masa krisis menjadi momentum bagi Indonesia untuk meredesain arsitektur ekonomi.

Menurutnya hal ini sudah seharusnya dilakukan sejak dulu, terutama pada masa krisis tahun 1997/1998.

"Sudah selayaknya kita meredesain tatanan ekonomi, bahkan mungkin juga tatanan hukum, dan tatanan sektor keuangan," ujar Wimboh dalam seminar daring Kagama Inkubasi Bisnis X bertajuk “Best Practice Manajemen Krisis: Membangun Network dan Potensi Funding untuk Melewati Masa-masa Sulit” yang digelar Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP Kagama), Minggu (31/5/2020).

Selain Wimboh yang hadir sebagai keynote speaker, seminar tersebut juga dihadiri Ketua Umum PP Kagama Ganjar Pranowo, serta para narasumber seperti Friderica Widyasari Dewi (Direktur Utama PT Danareksa Securitas), Arief Bintoro Dibyoseputro (Praktisi Manajemen Krisis dan Ekosistem Industri), dan Eni Widiyanti (Kepala Bidang Perbankan Kemenko Perekonomian RI). Bertindak sebagai moderator Aji Erlangga, Ketua Departemen Peningkatan Kompetensi Alumni, PP Kagama. Selain itu hadir juga pembahas utama Dandung S Harninto, pengurus Kadin bidang Konstruksi dan Infrastruktur serta Cahyadi, Ketua ABDSI (Asosiasi Pendamping UMKM).

Dalam paparannya, Wimboh menjelaskan, setiap negara memiliki kondisi budaya, ekonomi dan kerangka hukum yang berbeda-beda, sehingga respons terhadap pandemi Covid-19 pun berbeda pula. Dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia kata Wimboh, masih berada di level "merangkak ke atas". Penting bagi pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengontrol hal ini.

"Kalau sekarang kondisi pasar modal terkena sentimen negatif, tapi pasar modal memiliki pandangan ke depan yang kuat. Namun, di sektor riil-nya, Indonesia masih melangkah," tutur Wimboh.

Alumnus Universitas Illinois ini mengungkapkan, sektor riil yang masih lemah itu ditunjukkan dengan laporan Produk Domestik Bruto (PDB) di kuartal I 2020, hanya 2,97 persen. Persentase ini mengalami penurunan dibandingkan triwulan IV tahun 2019.

"Ini di luar dugaan, kami prediksikan ekonomi tumbuh di angka 4. Tetapi ternyata turun drastis. Meskipun demikian, Indonesia masih mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif dibandingkan negara lain walaupun rendah persentasenya," terangnya.

Pemerintah dan semua pemangku kepentingan, sudah seharusnya berpikir out of the box. Menurut Wimboh, Indonesia tak bisa menjalankan roda bisnis seperti di masa normal.

"Di masa pandemi ini kita mengusahakan untuk bergerak cepat. Jangan sampai ada instabilitas di sektor jasa keuangan," jelas pria yang pernah menjabat sebagai Executive Director International Monetary Fund (IMF) itu.

Seluruh pemangku kepentingan, kata Wimboh, harus sinergi. Saat ini, sektor informal (mikro, ultra mikro, dan UMKM) yang paling terdampak, karena rata-rata mereka bekerja dengan tujuan utama untuk makan, sehingga sektor ini menjadi prioritas yang harus ditangani.

Pemerintah sudah melakukan perluasan bantuan sosial, relaksasi kredit, memberikan subsidi bunga, dan sebagainya. Begitu juga dengan BI yang sudah menjaga likuiditas di pasar, sehingga sektor keuangan stabil. Nasabah yang mengajukan kredit di bank kini tak bisa mengangsur dan diberikan relaksasi. Di sektor keuangan, OJK melarang perbankan melakukan penagihan melalui debt collector kepada nasabah di masa pandemi.

"Hal ini dilakukan supaya masyarakat bisa tenang, tetap bisa makan. Kita sudah memberikan insentif kepada lembaga keuangan lewat restrukturisasi kredit dan subsidi bunga," jelas pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah ini.

Restrukturisasi paling utama ditujukan untuk kredit-kredit kecil UMKM. Sedangkan untuk perbankan, OJK dan Kemkeu menyiapkan penyangga likuiditas perbankan, supaya tetap bisa membayar kewajibannya kepada pemegang deposito dan tabungan, terlebih lagi jika ada nasabah yang ingin menarik uang di bank.

"Skemanya sudah disiapkan, likuiditas pasar akan kita jaga, likuiditas dan fasilitas BI tetap jalan. Apabila fasilitas yang ada tidak mampu membantu, maka OJK akan menyediakan likuiditas yang disalurkan melalui bank-bank besar. Ini hanya sebagai amunisi bagi perbankan supaya tetap kuat," tuturnya.

Bahkan, lanjut Wimboh, BI memberikan keleluasaan kepada bank penerima bantuan likuiditas, jikalau tak bisa mengembalikan uang, maka pembayaran akan dilakukan autodebit pada uang tersebut.

Wimboh berujar, restrukturisasi untuk bank-bank yang memberikan kredit kepada UMKM sudah dilakukan. Kini tugas berikutnya bagi OJK dan pemangku kepentingan terkait adalah membantu para pengusaha menengah.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

New Normal Berdampak Positif untuk Sektor Perumahan

Kempupera akan mendorong sejumlah program padat karya di sektor perumahan.

EKONOMI | 31 Mei 2020

Rusun Pasar Jumat Usung Konsep Hunian Terintegrasi

Progres konstruksi rusun Pasar Jumat saat ini sudah mencapai 88,12 persen.

EKONOMI | 31 Mei 2020

Citilink Kembali Layani Penerbangan Penumpang

Penumpang diimbau untuk memastikan berkas dan dokumen perjalanan yang dipersyaratkan

EKONOMI | 31 Mei 2020

Citilink Imbau Calon Penumpang Lengkapi Dokumen Perjalanan

Khususnya pada penerbangan Citilink tanggal 1 sampai dengan tanggal 7 Juni 2020, Citilink tetap mengikuti ketentuan Pemerintah.

EKONOMI | 31 Mei 2020

Ada Pandemi, Pendapatan Pelindo II Terjaga di Posisi Rp 3,5 Triliun

Salah satu penopangnya adalah tumbuhnya kinerja beberapa anak perusahaan

EKONOMI | 31 Mei 2020

Apindo: Sekarang Waktu Terbaik Beli Rumah

Perbankan dan juga para pengembang banyak memberi kemudahan bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah.

EKONOMI | 31 Mei 2020

Titis Sampurna Klarifikasi Soal Kepemilikan Perusahaan

Sejak tahun 2016 keseluruhan saham tersebut telah dialihkan seluruhnya.

EKONOMI | 31 Mei 2020

New Normal, Kempupera Optimistis Dorong Program Sejuta Rumah

Kempupera akan mendorong sejumlah program padat karya di sektor perumahan melalui Program BSPS

EKONOMI | 31 Mei 2020

Pembongkaran JPO, Sebagian Lajur Tol Jakarta-Cikampek Buka-Tutup

Sebagian lajur 3 Jalur A pun ditutup mulai hari ini.

EKONOMI | 31 Mei 2020

Raih Laba Rp 1 Triliun, Anggota DPR Apresiasi Krakatau Steel

Terus tingkatkan kinerja positf dan jangan cepat berpuas diri,

EKONOMI | 30 Mei 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS