Bursa Asia Menguat Ditopang PMI Tiongkok dan "Gertak Sambal" AS

Bursa Asia Menguat Ditopang PMI Tiongkok dan
Seorang pekerja di Hong Kong, Jumat (1/5/2020), memanfaatkan aksi demontrasi Hari Buruh Internasional 2020, dengan memegang spanduk menuntut kemerdekaan dari Tiongkok. (Foto: Istimewa)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Senin, 1 Juni 2020 | 15:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bursa Asia ditutup menguat pada perdagangan Senin (1/6/2020). Data dari Tiongkok menunjukkan sektor industri manufaktur bertumbuh sepanjang Mei, mengindikasikan pemulihan ekonomi yang konsisten dari dampak Covid-19.

Indeks Nikkei 225 naik 0,84 persen ke 22.062,39, Indeks Komposit Shanghai naik 2,21 persen ke 2.915,43, Hang Seng Hong Kong naik 3,36 persen ke 23.732,52, ASX 200 Australia naik 1,1 persen ke 5.819,2, dan Kospi Korea Selatan naik 1,75 persen ke 2.065,08.

Vishnu Varathan, kepala ekonom Mizuho Bank, mengatakan bahwa tekanan AS terhadap Tiongkok terkait isu otonomi Hong Kong tidak memiliki pengaruh besar. Jumat lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan memperlakukan Hong Kong sama dengan Tiongkok karena Tiongkok memperketat otonomi Hong Kong. Padahal sebelumnya Hong Kong menikmati perlakuan istimewa dari AS, seperti pengecualian tarif impor, karena perannya sebagai pusat keuangan Asia yang memiliki otonomi luas dari Tiongkok.

"Sikap AS atas Tiongkok yang memberlakukan UU Keamanan Nasional Hong Kong yang dinilai membatasi otonomi Hong Kong, ternyata lebih ke gertakan daripada 'gigitan'," kata dia.

"Sanksi terhadap Tiongkok terlihat lemah dan pasar melihat AS berhati-hati dalam isu ini, terutama karena risiko konsekuensi ekonomi terhadap Hong Kong dan kepentingan AS di sana," tambahnya.

Mantan negosiator perdagangan AS Clete Willems mengatakan sikap AS terhadap Hong Kong dapat mempengaruhi ekspor ke Hong Kong yang akan menjadi lebih ketat dan sensitif, pada khususnya ekspor teknologi. Menurutnya isu ini lebih besar daripada isu tarif karena Hong Kong bukanlah pusat manufaktur yang terdampak langsung dari naiknya tarif. Ekspor AS ke Hong Kong pada 2018 mencapai US$ 50,1 miliar.  

Data yang dirilis pada akhir pekan oleh Biro Statistik Nasional Tiongkok menunjukkan aktivitas manufaktur berkembang pada bulan Mei, dengan indeks manufaktur atau PMI berada di 50,6. Angka di atas level 50, menunjukkan bahwa industri masih berkembang atau positif. Namun, PMI Mei adalah penurunan dari 50,8 pada bulan April dan di bawah level 51,0 yang diperkirakan oleh para analis, menurut Reuters.



Sumber: BeritaSatu.com