Wall Street Melemah di Tengah-tengah Kerusuhan dan Perang Dagang

Wall Street Melemah di Tengah-tengah Kerusuhan dan Perang Dagang
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. (Foto: AFP / Johannes Eisele)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Senin, 1 Juni 2020 | 21:00 WIB

New York, Beritasatu.com - Bursa Amerika Serikat dibuka melemah pada awal perdagangan Juni. Kerusuhan rasial dan perang dagang menjadi sentimen negatif yang berpotensi menahan bursa.

Pada awal perdagangan Senin (1/6/2020), Dow Jones Industrial Average turun 0,3 persen, indeks S&P 500 turun 0,06 persen, dan Nasdaq naik 0,18 persen.

Selama Mei lalu, Dow naik 4,3 persen dan S&P 500 naik 4,5 persen, sementara Nasdaq naik 6,8 persen.

"Sejak Jumat, tidak ada sentimen positif untuk pasar. Kita baru mulai serius menanggapi ketegangan AS-Tiongkok, dan ditambah kerusuhan di hampir semua kota besar, tidak ada sentimen positif pasar. Saya tidak akan kaget jika pasar kembali mundur," kata chief market strategist National Securities, Art Hogan.

Pelaku pasar masih terus memantau pembukaan kembali di sejumlah negara bagian di tengah-tengah aksi demonstrasi massa terkait tewasnya seorang pria kulit hitam bernama George Floyd saat ditahan polisi. Aksi protes yang dipicu masalah rasial telah menyebabkan penjarahan dan pelanggaran jam malam di sejumlah wilayah.

Saham-saham perusahaan yang bisa beroperasi kembali setelah lockdown dilonggarkan diperkirakan akan terus naik, seperti saham kapal pesiar, hotel dan maskapai.

Ketegangan AS-Tiongkok juga menjadi perhatian pasar. AS baru saja mencabut status istimewa Hong Kong sebagai partner dagang AS karena Tiongkok membatasi otonomi Hong Kong. Tiongkok membalas dengan menunda impor kedelai dan daging babi dari AS, demikian menurut sumber rahasia kepada CNBC.com.

Dari sisi perkembangan vaksin Covid-19, Gilead Sciences mengatakan tahap 3 uji coba remdesivir menunjukkan hasil positif. Pasien dengan dosis lima hari memiliki peluang 65 persen lebih besar kondisinya membaik di hari ke-11, dibandingkan dengan perawatan biasa.



Sumber: CNBC.com