Bursa Rebound, Saham LPKR Menghijau

Bursa Rebound, Saham LPKR Menghijau
Progres pembangunan Apartemen Embarcadero Bintaro Tangerang, Selasa 28 Januari 2020. Pelaksanaan topping off Eastern Tower Apartment Embarcadero Bintaro setinggi 24 lantai sesuai IMB dan komitmen PT Lippo Karawaci Tbk menyelesaikan pembangunan. (Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 2 Juni 2020 | 08:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah sempat tertekan akibat Covid-19 kini mulai menguat (rebound). Tak heran, sejumlah saham emiten properti mulai menghijau.

Saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) pada pekan kemarin, Jumat (29/5/2020) bertengger di Rp 184 atau naik 8,88 persen di banding penutupan sehari sebelumnya. Adapun pada Pada Rabu (27/5/2020) LPKR masih di Rp 150 per lembar saham.

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas menilai LPKR yang memiliki bisnis inti di sektor properti juga kesehatan akan memiliki kinerja positif dalam jangka panjang. Animo di kedua bisnis sektor itu memang cukup baik. Sektor kesehatan dianggap menarik karena merupakan segmen bisnis yang saat ini benar-benar dibutuhkan masyarakat. “Akan ada peluang kinerjanya bisa lebih baik," kata Sukarno, dalam keterangannya Selasa (2/6/2020).

Baca juga: Pendapatan Lippo Karawaci yang Disesuaikan Naik Capai Rp 12,2 T

Yang pasti, kesehatan emiten dengan proporsi recurring income yang besar menjadi kekuatan terbesar LPKR menghadapi ketidakpastian ekonomi. Asal bisa memaksimalkan apa yang menjadi target perusahaan dan memanfaatkan dengan baik kondisi penurunan suku bunga dan insentif lain yang ada, dalam jangka panjang kinerja akan tetap positif.

Sukarno Alatas juga menilai kenaikan IHSG bersifat technical rebound. “Rebound saham ini bersifat jangka pendek dalam merespon pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pasar merespons positif dengan adanya berlaku new normal yang artinya ekonomi akan terbebas dari negatif. Indonesia termasuk bagian negara yang pulih lebih cepat setelah China akibat pendemi ini," ucap Sukarno.

Alatas menyampaikan bahwa capaian kinerja positif sejumlah emiten properti di 2019 tetap harus diihat secara komprehensif mengingat situasinya pasti terus positif jika tidak terjadi pandemi Covid-19. Kebijakan new normal diharapkan akan meningkatkan kembali kepercayaan investor sehingga kinerja emiten pun menjadi semakin positif.

Yang pasti, pelonggaran pembatasan sosial serta berlakunya kenormalan baru, akan menimbulkan optimisme dan memungkinkan kinerja operasional mal dan sektor properti berangsur pulih. Hal ini sejalan dengan membaiknya konsumsi masyarakat.

Untuk diketahui, LPKR sudah melaporkan kinerja 2019 yang mencatatkan peningkatan penjualan 7,6 persen pada 2019. LPKR meraih pendapatan Rp12,25 triliun sepanjang 2019. Kenaikan pendapatan disumbang oleh pertumbuhan segmen pendapatan berulang alias recuring income yang dimotori oleh anak usaha, PT Siloam Hospitals Tbk. (SILO).

SILO meraup pendapatan sebesar Rp7,02 triliun sepanjang tahun lalu atau naik 17,7 persen. Unit bisnis rumah sakit itu berkontribusi 75,1 persen terhadap total pendapatan berulang LPKR. Kenaikan pendapatan SILO tak lepas dari pembukaan rumah sakit baru pada kuartal IV/2019. Walhasil, rumah sakit yang dikelola mencapai 37 rumah sakit per akhir Desember 2019. Bisnis rumah sakit mampu mengimbangi penurunan pada bisnis properti dari tahun ke tahun.

Baca juga: Investor Manfaatkan Momentum, Saham LPKR Kembali Diburu

Pada kuartal I-2020 LPKR membukukan prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp 703 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 28 persen dari target prapenjualan sepanjang 2020 sebanyak Rp2,5 triliun. Pra-penjualan pada kuartal keempat 2019 merupakan pra penjualan kuartal tertinggi sepanjang sejarah secara signifikan telah meningkatkan posisi kas LPKR. Hal ini akan mebantu mengatasi ketidakpastian ekonomi dan membangun fondasi untuk bangkit kembali pasca-Covid-19.

LPKR telah memperkuat posisi kas dengan saldo kas dan setara kas sebesar Rp 4,69 triliun pada 2019 dibandingkan dengan Rp 1,82 triliun pada akhir tahun 2018. Pada 2019, LPKR melaporkan total utang sebesar Rp 12,25 triliun menurun sebesar Rp 2,62 triliun dari tahun sebelumnya. Hal itu menyebabkan rasio utang bersih terhadap ekuitas meningkat secara signifikan menjadi 0,22 kali pada 2019 dibandingkan dengan 0,53 kali pada akhir tahun 2018.

LPKR berencana untuk memanfaatkan peluang untuk mendiversifikasi utang dari dolar dengan lebih banyak utang dalam mata uang rupiah karena saat ini utang berdenominasi dolar sebesar 92 persen dari total utang.

Data pembukuan LPKR menyebutkan lebih dari 70 persen dari pendapatan Lippo Karawaci berasal dari recurring income, yang memberikan stabilitas di saat situasi pasar bergejolak. Dalam jangka panjang, kinerja LPKR diprediksi terus meningkat sebagai akibat dari strategi deleverage dan keberhasilan kepemimpinan manajemen.



Sumber: BeritaSatu.com