Bertanam Jadi Solusi Penghasilan di Tengah Pandemi

Bertanam Jadi Solusi Penghasilan di Tengah Pandemi
Ilustrasi pertanian dan perkebunan perkotaan. (Foto: Istimewa)
Lona Olavia / MPA Selasa, 2 Juni 2020 | 11:31 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Ahli pertanian Anton Apriyantono mengatakan, bertanam dapat menjadi solusi mendapat penghasilan di tengah pandemi terutama bagi pekerja di Jabodetabek yang terpaksa harus dirumahkan dulu. Apalagi, sesuai konsep dari pertanian perkotaan (urban farming) sebenarnya bisa mendapat penghasilan tambahan dari bertanam sayuran, bahkan bisa dikombinasikan dengan berternak ikan jenis lele dan nila.

“Sebaiknya bertanam sayur karena masa panen lebih cepat dan pemeliharaannya lebih mudah,” katanya, Selasa (2/6/2020).

Tambah Anton, bertanam sayuran tidak membutuhkan lahan yang luas bahkan di pekarangan rumah juga dapat dilakukan sehingga ideal untuk kawasan Jabodetabek. Sedangkan, untuk skala komersial memang dibutuhkan lahan minimal seribu meter persegi yang memang masih mudah di dapat di Jabodetabek dengan memanfaatkan lahan tidak terpakai.

“Sebelum memulai urban farming agar dihitung biaya-biayanya mulai dari sewa lahan, tenaga kerja, benih, pupuk, termasuk penggunaan listrik untuk pompa air,” imbaunya.

Adapun dengan masuknya era normal baru, sektor pertanian diharapkan juga bisa menjadi jaring pengaman sosial mengingat pelatihannya tidak terlalu sulit namun dampak yang diberikan sangat besar. Jabodetabek menjadi percontohan pertanian perkotaan meski di lahan yang sempit namun dengan optimalisasi akan memberikan panen yang melimpah.

“Kuncinya tekun dan memiliki kemauan untuk mempelajari cara bertani,” kata Anton.

Anton mengatakan salah satu urban farming telah diaplikasikan pekerja pariwisata yang kehilangan penghasilan selama masa pandemi ini karena hotel tempatnya berkerja harus tutup. Sebagai contoh, akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana Ni Wayan Sri Sutari yang menyebutkan, ada 10 pekerja pariwisata yang kini beralih menjadi petani sayuran.

“Benar awalnya mereka berkerja sebagai chef, bartender, dan pemandu pariwisata namun mereka terpaksa libur dulu karena hotelnya tempat berkerja tutup sementara waktu,” kata ia.

Para pekerja pariwisata ini mendapat pelatihan budidaya hortikultura dengan menggunakan benih cap Panah Merah yang merupakan produksi PT East West Seed Indonesia (Ewindo) seperti Pokcoy varietas Nauli F1, Sawi varietas Shinta, Bayam varietas Maestro, Bayam merah Mira.

Sri mengatakan konsepnya memang urban farming karena memanfaatkan lahan kosong seluas 2.000 meter persegi di tepi Jalan Danau Tempe Denpasar Selatan. Menurutnya, cara yang sama juga dapat diterapkan bagi para pekerja yang kehilangan mata pencahariannya akibat wabah Covid-19 di Jabodetabek.



Sumber: BeritaSatu.com