Pengusaha Ritel Minta BPJS Tanggung Biaya Rapid Test

Pengusaha Ritel Minta BPJS Tanggung Biaya Rapid Test
Petugas memeriksa suhu tubuh pengunjung di Lippo Mall Puri, Jakarta Barat, Jumat, 6 Maret 2020. (Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono)
Lona Olavia / FMB Selasa, 2 Juni 2020 | 20:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Persyaratan agar semua petugas dan pengelola toko menunjukkan surat negatif Covid-19 berdasarkan bukti hasil Tes PCR/rapid test sebelum pusat perbelanjaan dibuka kembali dinilai pengusaha ritel sulit untuk diterapkan.

Persyaratan itu sesuai dengan Surat Edaran (SE) Nomor 12 Tahun 2020 tentang pemulihan aktivitas perdagangan yang dilakukan pada masa pandemi Covid-19 dan new normal yang diteken Menteri Perdagangan Agus Suparmanto pada 28 Mei 2020 lalu

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy E Mandey menilai, langkah tersebut akan menggerus keuangan para pelaku ritel. Apalagi di tengah kondisi pandemi yang sudah menggerus omzet perusahaan besar-besaran. "Tenaga kerja kami di atas 2,5 juta kalau di-swab test, ini kan sedang tergerus kondisinya 45% year on year semua format ritel, dari 5 tipe ritel modern. Ini membebani kami, sudah bagus kami tetap buka, PHK minim. Ini dilematis," ujarnya dalam acara Zooming With Primus dengan topik Ritel Sambut New Normal," yang ditayangkan di Beritasatu TV, Selasa (2/6).

Pihaknya pun meminta BPJS untuk bisa bekerja sama dalam penyediaan tes ini. Pasalnya, pengusaha sudah menyetor tiap bulan ke BPJS. Sehingga, dalam hal ini, seharusnya BPJS bisa membayarkannya. Apalagi, pemerintah sudah menargetkan tiap harinya ada 10.000 warga dilakukan pengecekan apakah terinfeksi virus corona atau tidak.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Ritel Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan juga mengatakan, hal yang senada. Adapun, dalam SE 12/2020 tersebut ada dua hal yang menjadi sorotannya yakni, batasan 40% dari kunjungan normal dan diwajibkannya cuci tangan di wastafel di depan pintu masuk toko.

"Kalau persentase kunjungan normal, ini oke lah, toh di Tiongkok tidak pernah penuh, hanya 10% dan naik pelan-pelan. Kalau cuci tangan di pintu masuk, saya sudah bicara dengan Kementerian Perdagangan, itu justru akan mengakibatkan antrian panjang. Kalau hand sanitizer 1-2 detik sudah selesai. Saya minta diganti ke hand sanitizer kan fungsinya sama saja," pungkasnya.

Terkait kesehatan petugas mall, ia mengaku tiap hari diberikan vitamin kepada para petugas dan pemberlakuan shift pendek supaya stamina terjaga.

Mengutip SE tersebut, dikatakan bahwa toko swalayan seperti minimarket, supermarket, hypermarket, department store di kala penerapan new normal, wajib mengikuti standar protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Menerapkan pengaturan sirkulasi dan batasan waktu kunjungan serta jumlah pengunjung maksimal 40% dari jumlah kunjungan pada saat kondisi new normal.

Kemudian semua petugas dan pengelola toko menunjukkan surat negatif Covid-19 berdasarkan bukti hasil Tes PCR/Rapid Test yang dilakukan oleh pemilik toko/dinas kesehatan setempat, serta menggunakan masker, face shield, dan sarung tangan selama beraktivitas.

Sebelum toko dibuka pun perlu dilakukan screening awal untuk memastikan suhu tubuh seluruh petugas dan pengelola toko di bawah 37,3 derajat celcius. Pengunjung juga wajib menggunakan masker dan menjaga jarak antrian 1,5 meter serta kontrol tubuh di bawah 37,3 derajat celcius. Melarang masuk orang dengan gejala pernapasan seperti batuk/flu/sesak napas.

Pengelola juga wajib menyediakan tempat cuci tangan, sabun dan hand sanitizer di area toko, serta menjaga kebersihan dengan melakukan penyemprotan disinfektan di ruangan atau lokasi secara berkala setiap dua hari sekali. Lalu, pemilik toko juga wajib menjual barang higienis.

Selain itu, pemilik toko juga wajib menerapkan pembatasan jarak pada saat melakukan transaksi pembayaran di kasir 1,5 meter dan paling banyak 10 orang. Diutamakan pembayaran non tunai atau elektronik. Kemudian, ruang terbuka seperti tempat parkir juga harus dioptimalkan untuk berjualan para pedagang kecil dalam rangka physical distancing dengan mengatur jarak antar pedagang dalam rentang minimal 2 meter.



Sumber: BeritaSatu.com