Tidak Punya "Nurani", Wall Street Menguat di Tengah-tengah Gelombang Protes

Tidak Punya
Dua polisi meringkus seorang pria dalam aksi unjuk rasa di Philadelphia, Pennsylvania, 31 Mei 2020. Kerusuhan terjad memprotes tewasnya George Floyd akibat kekerasan polisi di Minneapolis enam hari sebelumnya. (Foto: AFP)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Selasa, 2 Juni 2020 | 21:09 WIB

New York, Beritasatu.com - Bursa Amerika Serikat dibuka menguat pada awal perdagangan hari ini, Selasa (2/6/2020). Pelaku pasar mengabaikan kerusuhan rasial yang melanda AS dan fokus ke pembukaan kembali aktivitas ekonomi.

Dow Jones Industrial Average naik 0,37 persen ke 25.568,77, Indeks S&P 500 naik 0,05 persen ke 3.057,23, dan Nasdaq turun 0,24 persen ke 9.528,72.

Quincy Krosby, chief market strategist Prudential Financial, menjelaskan kenapa pasar tidak bereaksi atas aksi protes yang melanda kota-kota besar di AS. 

"Pasar selama ini tidak memiliki hati nurani, tanpa emosi, tanpa kepedulian, tanpa empati. Itulah sifat asli pasar. Algoritma pasar tidak memiliki ruang untuk empati. Seharusnya memang demikian," kata dia.

Jim Cramer, pembawa acara Mad Money di CNBC, mengatakan menguatnya Wall Street di tengah-tengah gelombang protes karena pasar buta terhadap keadilan sosial (social justice).

"Ujung-ujungnya, pasar tidak punya nurani. Investor hanya ingin mencari untung dan kini mereka mengerubungi saham 'tinggal di rumah'. Benar atau salah, rasional atau tidak, celah ekonomi ini layak dieksploitasi," kata dia.

Baca juga: Hadapi Demonstrasi, Kepemimpinan Trump Perburuk Perpecahan

Saham-saham terkait pembukaan kembali ekonomi kembali menjadi primadona. Saham maskapai American Airlines, United Airlines, dan Southwest masing-masing naik lebih dari 3 persen. Peritel Gap naik 2,7 persen dan Kohl's naik 1,9 persen. Saham kapal pesiar juga menguat.

Pasar futures sempat terguncang ketika Presiden Donald Trump mengatakan akan menurunkan tentara jika negara bagian dan kota-kota di AS tidak mampu meredam kerusuhan. Namun, pasar kemudian kembali tenang dan mengabaikan kerusuhan yang diakibatkan tewasnya George Floyd (46), seorang pria kulit hitam saat ditangkap dengan tidak berperikemanusiaan oleh polisi.

Lori Calvasina, chief US equity strategist RBC, mengatakan hubungan AS-Tiongkok yang renggang dan kerusuhan bisa menjadi sentimen yang mencuri perhatian di bulan Juni.

Ketegangan AS-Tiongkok meningkat. Reuters yang mengutip sejumlah sumber menyebut bahwa BUMN Tiongkok menghentikan pembelian kedelai dan daging babi dari AS. Langkah ini merespons pengumuman Presiden AS Donald Trump yang menghilangkan perlakuan khusus Hong Kong menyusul Tiongkok yang mengesahkan Undang-Undang Keamanan Nasional baru yang membatasi otonomi Hong Kong.



Sumber: BeritaSatu.com